Mantv7.com | Tangerang — Di tengah tekanan hidup yang semakin kompleks, makna hubungan suami istri kembali menjadi perhatian. Bukan lagi soal siapa yang paling kuat atau paling sempurna, melainkan siapa yang mampu menghadirkan ketenangan di dalam rumah. Relasi suami istri kini dipahami bukan sekadar ikatan formal, tetapi hubungan yang menjadi ruang pulang paling aman. Di tempat itulah, seorang suami berharap bisa meletakkan beban, tanpa takut disalahkan atau dihakimi.
Fakta di lapangan menunjukkan, kebutuhan seperti makan enak, rumah rapi, atau penampilan menarik memang penting, namun bukan penentu utama kebahagiaan. Semua itu bisa dicari di luar, tetapi ketenangan batin tidak bisa digantikan.
Di sinilah peran istri menjadi sangat terasa. Bukan tentang menjadi sempurna, tetapi bagaimana ia mampu menghadirkan suasana yang membuat hati suami tenang. Sikap sederhana seperti tutur kata lembut, kesabaran, dan tidak memperbesar masalah kecil menjadi kunci yang sering diabaikan.
Nilai ini sejalan dengan ajaran Islam yang menempatkan peran istri dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Dalam QS. An-Nisa ayat 34, perempuan saleh digambarkan sebagai yang taat kepada Allah dan menjaga kehormatan dirinya, termasuk saat suami tidak berada di rumah.
Makna ketaatan tersebut bukan sekadar kewajiban, tetapi bentuk menjaga kepercayaan. Dari sinilah tumbuh rasa aman yang membuat hubungan menjadi lebih kuat dan tidak mudah goyah oleh masalah kecil.
QS. Ar-Rum ayat 21 juga menjelaskan bahwa tujuan pernikahan adalah menghadirkan ketenangan (sakinah), kasih (mawaddah), dan sayang (rahmah). Artinya, rumah tangga seharusnya menjadi tempat yang menenangkan, bukan sumber tekanan baru.
Selain itu, dalam QS. Al-Baqarah ayat 187, suami dan istri diibaratkan sebagai pakaian satu sama lain. Mereka saling menutup kekurangan, menjaga kehormatan, dan melindungi, bukan membuka aib atau memperkeruh keadaan.

Menanggapi fenomena ini, Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, Ketua Umum JAMDAL, menegaskan bahwa ketenangan dalam rumah tangga lahir dari sikap saling memahami. “Istri yang mampu menjaga tutur kata, sikap, dan kepercayaan, itu bukan hal kecil. Justru di situlah letak kekuatan rumah tangga,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Kehadiran istri bukan untuk menuntut berlebihan, tapi untuk menguatkan. Ketika dijalankan dengan niat ibadah, maka ketenangan itu akan kembali kepada keluarga itu sendiri.”
Momentum Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April menjadi pengingat bahwa peran perempuan tidak hanya diukur dari pencapaian luar, tetapi juga dari kemampuannya membangun ketenangan dalam keluarga, sebagaimana semangat yang diwariskan oleh Raden Ajeng Kartini.
Pada akhirnya, hubungan suami istri yang kuat bukan dibangun dari tuntutan, tetapi dari kemauan untuk saling memahami dan menguatkan. Karena di balik kerasnya dunia, setiap orang tetap membutuhkan satu tempat pulang yang benar-benar menghadirkan ketenangan.
(RED)











