Berita

Arisan Ibu-Ibu di Tigaraksa Diduga Ricuh, Dipicu Perselisihan antara Pengurus dan Anggota

472
×

Arisan Ibu-Ibu di Tigaraksa Diduga Ricuh, Dipicu Perselisihan antara Pengurus dan Anggota

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Tangerang — Acara arisan ibu-ibu yang digelar di Komplek Perumahan PWS, Desa Margasari, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, berujung ricuh. Keributan tersebut diduga dipicu oleh perselisihan antara pengurus arisan dengan salah seorang mantan anggota, hingga berlanjut dengan adu mulut dan dugaan ancaman fisik. Menurut informasi yang dihimpun, kericuhan bermula setelah Ketua Arisan membuka acara dan mempersilakan para anggota untuk melunasi kewajiban masing-masing.

Tak lama kemudian, seorang mantan anggota berinisial (A) yang diketahui telah keluar dari grup arisan sejak April 2026 datang untuk melunasi iuran kas sebesar Rp90.000 yang sebelumnya ditagihkan oleh ketua arisan di sebuah pasar atau tempat umum. Padahal, menurut yang bersangkutan, dana arisan miliknya sekitar Rp2.800.000 masih berada dalam pengelolaan arisan dan belum dikembalikan.

Namun, kedatangannya disebut tidak disambut dengan baik. Menurut keterangan yang bersangkutan, Ketua Arisan mengatakan, “Nanti dulu, kamu masuk terakhir. Kita utamakan anggota yang lain dulu.”

Mendengar hal tersebut, inisial (A) menyampaikan keberatannya. “Tadi Ibu Ketua sendiri yang mempersilakan siapa saja yang ingin membayar kewajiban. Kemarin saya juga ditagih uang kas di pasar saat anak saya baru selesai dibesuk karena sakit. Waktu itu saya ingin langsung transfer, tetapi diminta membayarnya saat acara arisan. Sekarang saya datang untuk membayar, kok malah seperti ini,” ujarnya.

Percakapan kemudian berlanjut ketika Penasehat Arisan berinisial (DM) menanggapi dengan mengatakan bahwa penagihan di pasar merupakan hal biasa dan tidak menjadi persoalan. Saat itu, menurut keterangan saksi, terdengar pula seorang anggota lain berteriak, “Kasih saja uang arisannya, dia ke sini pasti mau minta uang arisannya.”

Menanggapi hal tersebut, inisial (A) membantah tudingan tersebut. “Saya datang bukan untuk meminta uang arisan. Saya datang untuk membayar uang kas yang diminta Ketua di pasar, sekaligus mengembalikan uang santunan sebesar Rp500.000 yang sebelumnya diberikan saat anak saya sakit,” ujarnya sambil meletakkan uang tersebut.

Situasi kemudian memanas ketika seorang anggota baru berinisial (R) yang disebut tidak memiliki keterkaitan langsung dengan persoalan itu diduga ikut campur. Menurut keterangan saksi, (R) menunjuk inisial (A) sambil mengucapkan kata-kata kasar dan menantangnya berkelahi.

Keributan terus berlanjut hingga acara berakhir. Seorang saksi juga mengaku mendengar Bendahara Arisan berinisial (S) berteriak, “Terus… terus… terus… biarin aja,” yang menurut saksi terkesan memperkeruh suasana.

Tidak hanya itu, saksi menyebut anggota berinisial (R) diduga sempat mengepalkan tangan dan mengarahkan gerakan seolah hendak memukul wajah inisial (A) sambil kembali mengucapkan kata-kata kasar. Beruntung, beberapa anggota lain segera melerai sehingga bentrokan fisik berhasil dihindari. Setelah itu, (R) meninggalkan lokasi menggunakan sepeda motor.

Sementara itu, seorang narasumber yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa Ketua Arisan berinisial (D), yang disebut merupakan istri dari Sekretaris Paguyuban, selama ini diduga kerap bersikap semena-mena terhadap sejumlah anggota.

“Karena merasa memiliki jabatan dan kondisi ekonomi yang lebih baik, selama ini dia sering bertindak sesuka hati kepada anggota lain. Bahkan pernah menyiram seorang anggota dengan air hanya karena tidak mendengarkan saat dia berbicara,” ujar narasumber.

Narasumber tersebut juga mengaku banyak anggota memilih diam karena merasa khawatir terhadap posisi Ketua Arisan yang memiliki hubungan dengan kepengurusan paguyuban.

Selain Ketua Arisan, narasumber juga menyebut Penasehat Arisan berinisial (DM) yang merupakan istri mantan Ketua Paguyuban serta Bendahara Arisan berinisial (S) yang merupakan istri Bendahara Paguyuban, diduga sering mengambil keputusan secara sepihak.

“Ketiga pengurus itulah yang dianggap paling berkuasa dalam kegiatan arisan. Apa pun keputusan mereka, anggota seolah harus mengikuti. Kalau ada yang berani menolak, kami khawatir akan dikucilkan atau mendapat intimidasi,” ujar narasumber dengan nada kecewa.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Ketua Arisan, Penasehat Arisan, Bendahara Arisan maupun anggota yang disebut dalam pemberitaan ini belum memberikan klarifikasi atau tanggapan atas berbagai keterangan dan dugaan yang disampaikan para narasumber.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks