BeritaBisnis & Pasar

Sinergi Tokoh dan Elemen Balaraja Makin Merekat, Gagasan Sentra Kuliner Pasar Segitiga Didorong Jadi Gerakan Bersama

108
×

Sinergi Tokoh dan Elemen Balaraja Makin Merekat, Gagasan Sentra Kuliner Pasar Segitiga Didorong Jadi Gerakan Bersama

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Tangerang — Gagasan menghidupkan kembali kawasan Pasar Segitiga Balaraja atau Eks Terminal Balaraja sebagai sentra kuliner UMKM perlahan mulai berkembang menjadi pembicaraan yang melibatkan lebih banyak tokoh dan elemen masyarakat. Jika sebelumnya gagasan tersebut berawal dari diskusi sejumlah tokoh, kini dukungan mulai merembet ke berbagai lini yang memiliki perhatian terhadap masa depan Balaraja. Salah satu penggagas awal, Letnan Kolonel Inf. Dodi Fahrurozi, M.M., terus membuka ruang komunikasi dengan berbagai tokoh Balaraja. Gagasan yang dibawanya tidak ditempatkan sebagai proyek milik pribadi, melainkan sebagai bahan diskusi bersama mengenai bagaimana kawasan yang selama bertahun-tahun belum dimanfaatkan secara optimal itu dapat memiliki fungsi ekonomi dan sosial yang lebih kuat.

Dalam perkembangan berikutnya, sinergi tersebut semakin merekat bersama Ucu Samsu Komar alias Bacung, tokoh pemuda yang dikenal aktif dalam bidang seni dan budaya, serta Ahmad Saefi Sobur atau Ujang Sobur, tokoh yang memiliki pengalaman panjang dalam pendidikan nonformal dan kegiatan sosial kemasyarakatan.

Kehadiran berbagai unsur tersebut membuat pembahasan tidak lagi sekadar berbicara mengenai kios atau tempat berjualan. Ada pembicaraan yang lebih luas mengenai ekonomi rakyat, ruang publik, kebudayaan, kepemudaan, pendidikan, ketertiban kawasan hingga identitas Balaraja.

Dukungan Mulai Datang dari Berbagai Elemen

Sinergi itu kemudian mendapat ruang lebih luas dengan keterlibatan para ketua organisasi kemasyarakatan di Balaraja serta jajaran pengurus Balad Raja atau Balai Adat Balaraja yang dipimpin Qomaruzaman, M.Ed. Keterlibatan Balad Raja membawa perspektif berbeda dalam pembahasan. Pasar Segitiga Balaraja tidak hanya dipandang sebagai sebidang kawasan yang membutuhkan penataan, tetapi juga bagian dari ruang sosial masyarakat Balaraja yang memiliki sejarah dan identitas lokal.

Dari sisi hukum, pembahasan juga mendapat perspektif dari Heri Djauhari, S.H., seorang advokat dan Managing Partner Mandala Law Firm, yang juga disebut sebagai Sekretaris Jenderal Balad Raja. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya agar gagasan penataan kawasan tidak hanya menarik secara konsep, tetapi juga sejak awal memperhatikan aspek hukum, kewenangan, perizinan, pengelolaan serta potensi persoalan yang mungkin muncul dalam pelaksanaannya.

Sementara itu, keberadaan H. Engkos Kosasih sebagai salah satu sepuh Balaraja turut memberikan warna tersendiri. Pengalaman para sepuh dinilai penting untuk membaca Balaraja bukan hanya dari kondisi hari ini, tetapi juga dari perjalanan kawasan dan kehidupan masyarakatnya dari waktu ke waktu. Dengan semakin banyaknya unsur yang terlibat, gagasan tersebut mulai bergerak dari “ide beberapa orang” menjadi bahan pembicaraan bersama.

Bukan Sekadar Membangun Kios

Konsep yang ditawarkan Dodi sebelumnya adalah menghidupkan kembali Eks Terminal Balaraja/Pasar Segitiga menjadi sentra kuliner UMKM dengan pendekatan “Cepat, Murah, Rapi dan Rame.” Rencananya, kawasan dapat diisi sekitar 30 kios kuliner berukuran 4 x 4 meter, area makan bersama, penerangan, toilet, tempat wudu, parkir, CCTV, taman hingga ruang untuk kegiatan seni dan budaya.

Namun, berkembangnya dukungan dari berbagai tokoh membuat gagasan tersebut mulai dilihat lebih luas. Kawasan itu diharapkan bukan hanya menjadi tempat transaksi jual beli, tetapi juga ruang interaksi masyarakat Balaraja. Di satu sisi ada UMKM yang membutuhkan tempat usaha. Di sisi lain ada pemuda yang membutuhkan ruang berekspresi, masyarakat yang membutuhkan tempat berkumpul, serta potensi seni dan budaya lokal yang membutuhkan ruang untuk tampil.

Karena itu, jika nantinya mendapat persetujuan dan dukungan dari pihak yang memiliki kewenangan, konsep tersebut dapat dikembangkan dengan tetap mempertimbangkan karakter Balaraja serta kebutuhan masyarakat setempat.

Semua Unsur Punya Peran

1. Dodi membawa gagasan awal dan dorongan untuk menghidupkan kawasan.
2. Bacung membawa energi pemuda serta perspektif seni dan budaya.
3. Ujang Sobur membawa pengalaman dalam pendidikan nonformal dan kegiatan kemasyarakatan.
4. Qomaruzaman bersama jajaran Balad Raja membawa perspektif adat, sosial dan identitas masyarakat Balaraja.
5. Para ketua organisasi kemasyarakatan membawa suara kelompok masyarakat yang selama ini berada dekat dengan persoalan di lapangan.
6. Sementara Heri Djauhari memberikan perspektif hukum agar setiap gagasan yang berkembang tetap berada dalam koridor kewenangan dan aturan yang berlaku.
7. Kemudian H. Engkos Kosasih dan para sepuh Balaraja membawa pengalaman panjang mengenai perjalanan masyarakat dan kawasan Balaraja.

Dari sinilah muncul satu kesamaan pandangan: kalau Balaraja memiliki potensi yang dapat dihidupkan, mengapa tidak dibicarakan dan dikerjakan bersama?

Di tengah berkembangnya sinergi tersebut, YLPK PERARI Kabupaten Tangerang tetap memberikan dukungan sebagai bagian dari elemen masyarakat yang mengawal gagasan dari sisi kontrol sosial. Melalui Buyung E., YLPK PERARI menyampaikan bahwa dukungan tersebut diberikan sepanjang prosesnya dilakukan secara terbuka, melibatkan masyarakat dan mengikuti mekanisme yang berlaku.

“Yang kami lihat bukan siapa yang paling menonjol. Yang penting adalah gagasannya membawa manfaat atau tidak bagi masyarakat. Kalau memang baik, tentu harus dikawal bersama dan ditempuh melalui mekanisme yang benar,” ujarnya.

Posisi YLPK PERARI dalam konteks ini bukan sebagai pihak yang menentukan kebijakan kawasan, melainkan sebagai bagian dari masyarakat yang mendorong agar setiap proses berjalan terbuka, akuntabel dan tidak mengabaikan kepentingan pelaku UMKM maupun masyarakat yang telah berada di kawasan tersebut.

Pedagang Lama Jangan Ditinggalkan

Satu hal yang menjadi perhatian dalam gagasan tersebut adalah keberadaan pedagang yang selama ini telah mencari nafkah di kawasan Pasar Segitiga Balaraja. Penataan tidak seharusnya dipahami sebagai upaya menggusur atau menggantikan pelaku usaha lama. Justru mereka harus menjadi bagian dari pembicaraan apabila konsep tersebut benar-benar dilanjutkan.

Perubahan tidak boleh membuat masyarakat yang selama ini bertahan justru kehilangan ruang hidupnya. Karena itu, komunikasi dengan pedagang, pemilik usaha, masyarakat sekitar dan pihak-pihak yang memiliki kewenangan menjadi penting sebelum konsep apa pun diwujudkan.

Dari Gagasan Menjadi Gerakan Bersama

Perkembangan dukungan tersebut menunjukkan bahwa persoalan Pasar Segitiga Balaraja mulai dilihat dari berbagai sudut pandang. Ada perspektif ekonomi dari UMKM, perspektif kepemudaan dari organisasi masyarakat, perspektif budaya dari para pegiat seni, perspektif pendidikan dari tokoh pendidikan nonformal, perspektif hukum dari kalangan advokat, perspektif adat dari Balad Raja, serta perspektif pengalaman dari para sepuh Balaraja.

Kesemuanya bertemu pada satu gagasan sederhana: menghidupkan kembali sesuatu yang sudah ada tanpa harus selalu memulai dari nol. Apakah konsep sentra kuliner itu nantinya benar-benar terwujud, tentu masih membutuhkan kajian, pembicaraan, persetujuan serta keputusan dari pihak yang berwenang. Karena itu, gagasan 90 hari yang sebelumnya muncul lebih tepat dipandang sebagai dorongan untuk memulai proses, bukan janji bahwa pembangunan akan selesai dalam waktu tersebut.

Kini yang mulai terlihat adalah sesuatu yang lebih penting: semakin banyak orang mulai berbicara tentang masa depan kawasan tersebut. Dan mungkin, perubahan memang selalu dimulai dari sana bukan ketika semua orang sudah sepakat, tetapi ketika cukup banyak orang bersedia duduk bersama, mendengarkan, kemudian mencari jalan keluar.

Balaraja tidak sedang mencari siapa yang paling berjasa. Balaraja sedang mencari cara agar potensi yang ada tidak kembali terabaikan. Dari Dodi, Bacung, Ujang Sobur, Balad Raja, para ketua organisasi kemasyarakatan, Heri Djauhari, para sepuh hingga elemen masyarakat lainnya, perlahan muncul satu pesan yang sama:

Jangan saling menggantikan. Mari mencari cara agar semua bisa mendapatkan tempat dan manfaat.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks