AgamaArtikelBerita

Suara “Pulang” Yang Mengetuk Hati, Di Saat Kita Terlalu Lama Jauh Dari Allah

76
×

Suara “Pulang” Yang Mengetuk Hati, Di Saat Kita Terlalu Lama Jauh Dari Allah

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Sebelas bulan telah berlalu sejak Ramadhan terakhir memeluk kita dengan tarawih yang penuh harap dan sahur yang basah oleh doa. Kini ia kembali mendekat, namun yang lebih sering terdengar dari lisan kita justru keluhan, bukan syukur. Kita mengeluh tentang ekonomi yang sulit, pekerjaan yang tak stabil, rumah tangga yang diuji, kesehatan yang menurun, hingga persoalan hidup yang tak kunjung selesai. Kita merasa hidup berat, seolah malam tak berujung. Tanpa sadar, keluhan itu lahir dari hati yang lelah karena terlalu lama berjalan tanpa benar-benar menggenggam Allah SWT.

Selepas Ramadhan tahun lalu, kita pernah berjanji akan berubah. Namun waktu menguji kesungguhan itu. Shalat yang dulu tepat waktu mulai tertunda. Al-Qur’an yang dulu khatam kini kembali tersimpan rapi. Dzikir yang dulu mengalir kini terganti oleh keluh kesah. Kita sibuk memperbaiki dunia, tetapi lupa merawat jiwa. Padahal Allah telah menenangkan dalam QS. Al-Baqarah: 186 bahwa Dia dekat dan mengabulkan doa hamba-Nya. Dia dekat, tetapi mengapa kita merasa jauh?

Lirik lagu “Pulang” dari For Revenge seperti memantulkan kondisi batin kita hari ini: “Gundah yang memudarkan asa, malam ini tak ada akhirnya.” Bukankah itu gambaran hati yang kehilangan cahaya? Saat hidup terasa gelap, bukan selalu karena dunia terlalu kejam, tetapi karena kita terlalu lama menjauh dari sumber terang. Kita larut dalam rutinitas, ambisi, dan gengsi, hingga lupa bahwa kita hanyalah hamba yang rapuh.

“Ku terjebak di titik terendah.” Betapa banyak yang diam-diam berada di fase itu tersenyum di luar, namun runtuh di dalam. Mengadu pada manusia, tetapi jarang bersujud mengadu pada Allah. Kita merasa sendirian, padahal Allah berfirman dalam QS. Qaf: 16 bahwa Dia lebih dekat daripada urat leher. Kedekatan itu nyata, hanya saja hati kita terlalu penuh oleh dunia hingga sulit merasakannya.

Di tengah kelelahan itu, liriknya berbisik, “Indah suaranya memintaku pulang.” Dalam kacamata iman, suara itu adalah panggilan rahmat. Serupa dengan firman Allah dalam QS. Az-Zumar: 53, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” Allah tidak memanggil kita dengan sebutan pendosa, tetapi dengan panggilan penuh cinta: hamba-Ku. Sapaan itu seharusnya cukup untuk mengguncang jiwa yang terlalu lama lalai.

Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, selaku Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa). Foto: Mantv7.com

Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa), dalam tausiyahnya mengingatkan dengan nada yang dalam, “Ramadhan bukan hanya tamu tahunan, tetapi panggilan Allah agar kita pulang sebelum benar-benar dipanggil pulang oleh kematian. Jika sebelas bulan ini lebih banyak keluhan daripada sujud, maka Ramadhan adalah kesempatan memperbaiki arah. Jangan tunggu hati mengeras, jangan tunggu usia habis.”

Nasihat itu terasa seperti alarm yang membangunkan kesadaran kita yang tertidur.
Realitasnya, banyak janji kita yang gugur oleh kesibukan. Kita kembali mudah marah, mudah iri, lalai menjaga lisan, bahkan abai pada amanah kecil. Saat hidup terasa berat, kita bertanya mengapa Allah belum menolong. Padahal mungkin kita yang belum sungguh-sungguh kembali. Kita ingin ketenangan, tetapi enggan mendekat pada sumbernya.

“Tak ada tempat seindah rumah.” Dalam iman, rumah itu adalah sujud yang khusyuk dan doa yang jujur. QS. Ar-Ra’d: 28 menegaskan bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Bukan dengan saldo yang bertambah, bukan dengan pujian manusia, bukan dengan kemenangan ego. Tanpa Allah, jiwa tetap gelisah meski dunia terasa luas di genggaman.

Ramadhan kini berada di ambang pintu. Ia membawa kesempatan yang mungkin tak terulang. Pertanyaannya, apakah kita akan menyambutnya dengan hati yang sama seperti tahun lalu penuh janji tanpa bukti? Ataukah kita akan benar-benar pulang? Pulang berarti memperbaiki shalat sebelum memperbaiki yang lain. Pulang berarti meminta maaf sebelum diminta. Pulang berarti menahan lisan sebelum melukai. Pulang berarti bangun di sepertiga malam dan mengakui dengan jujur bahwa kita lemah dan Allah Maha Kuat.

Kita sering merasa kuat hingga satu ujian kecil membuat kita roboh. Di situlah kita sadar bahwa kita bukan siapa-siapa tanpa pertolongan-Nya. Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi membongkar kesombongan diri dan menghidupkan kembali kesadaran sebagai hamba.

Jika lirik itu kembali terngiang, “Indah suaranya memintaku pulang,” jangan anggap itu sekadar lagu. Bisa jadi itu hidayah yang datang lewat cara sederhana. Bisa jadi itu adalah panggilan Allah yang mengetuk hati kita yang hampir beku. Dan sebelum suatu hari terdengar panggilan pulang yang tak bisa ditunda lagi, mari jadikan Ramadhan ini sebagai langkah sungguh-sungguh untuk kembali.

Kembali dengan taubat, kembali dengan harap, kembali dengan tekad. Karena kita hanyalah hamba yang lemah, dan hanya kepada Allah tempat pulang yang paling indah.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks