Mantv7.com | Ada satu kenyataan yang sering diabaikan banyak suami: wanita yang setiap hari kau lihat, yang mungkin kau anggap selalu ada, justru dialah orang yang paling diam-diam menanggung luka paling dalam. Dia memasak ketika hatinya lelah. Dia tersenyum ketika perasaannya diabaikan. Dia tetap tinggal, bahkan ketika hatinya perlahan retak oleh sikap orang yang paling ia cintai. Dan ironisnya, sering kali suami baru menyadari nilainya ketika hatinya sudah terlalu lelah untuk berharap.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 21: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang.” Ayat ini adalah peringatan yang sangat dalam: ketenangan hidup seorang suami bukan datang dari dunia, tetapi sering Allah titipkan melalui hati seorang istri. Maka ketika seorang suami menyakiti istrinya, sesungguhnya ia sedang menghancurkan ketenangannya sendiri, perlahan, tanpa ia sadari.

Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa), Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, menegaskan dalam pandangan Islam bahwa seorang istri adalah amanah yang akan menjadi saksi di hadapan Allah SWT. “Istri adalah titipan Allah, bukan tempat melampiaskan emosi, bukan tempat melupakan tanggung jawab. Banyak suami merasa kuat di luar rumah, tapi justru lemah dalam menjaga hati istrinya. Padahal kemuliaan seorang laki-laki di sisi Allah bukan diukur dari kekuasaannya, tetapi dari bagaimana ia memuliakan istrinya,” tegasnya.
Allah SWT juga berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 187: “Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka.” Pakaian menutup kekuranganmu. Pakaian melindungimu. Pakaian tidak meninggalkanmu ketika engkau lemah. Begitulah istrimu. Dia menutup aibmu dari dunia, bahkan ketika dunia tidak lagi menghormatimu. Dia menjaga kehormatanmu, bahkan ketika mungkin engkau tidak menjaga perasaannya.
Banyak istri tidak meminta kemewahan. Mereka hanya ingin dihargai. Mereka hanya ingin didengar. Mereka hanya ingin merasa bahwa keberadaannya berarti. Namun yang sering terjadi, justru kata-kata suaminya menjadi sumber luka, sikap suaminya menjadi sumber dingin, dan diam suaminya menjadi sumber kehancuran yang paling sunyi.
Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 19: “Dan bergaullah dengan mereka secara patut (ma’ruf).” Ini bukan sekadar anjuran, ini adalah perintah langsung dari Allah. Artinya, setiap kata kasar, setiap sikap merendahkan, setiap pengabaian terhadap perasaan istri, adalah sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah SWT.
Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag mengingatkan dengan sangat tegas, “Jangan sampai seorang suami menjadi orang asing di hati istrinya sendiri. Jangan sampai seorang istri merasa sendirian, padahal suaminya masih hidup. Karena ketika hati seorang istri sudah lelah, ia mungkin tetap tinggal secara fisik, tetapi hatinya telah pergi. Dan ketika itu terjadi, tidak ada kekuatan yang mampu memaksa cinta kembali seperti semula.”
Allah SWT juga berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 1 yang mengingatkan agar manusia bertakwa kepada Allah dalam menjaga hubungan keluarga. Ini menunjukkan bahwa hubungan suami dan istri bukan sekadar urusan dunia, tetapi urusan iman, urusan yang akan dipertanyakan di hadapan Allah SWT.
Renungkan satu hal ini: ketika engkau sakit nanti, ketika tubuhmu lemah, ketika dunia tidak lagi sibuk mencarimu, siapa yang akan tetap tinggal? Bukan teman-temanmu. Bukan rekan kerjamu. Tapi istrimu. Wanita yang mungkin pernah kau abaikan, justru dialah yang akan menyeka keringatmu, menjaga malammu, dan berdoa untuk kesembuhanmu.
Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag juga menegaskan, “Setiap air mata istri yang jatuh karena suaminya, Allah mengetahuinya. Setiap luka yang diberikan suami, akan menjadi bagian dari hisabnya. Dan setiap kebaikan yang diberikan kepada istri, akan menjadi cahaya yang menyelamatkannya di hadapan Allah. Maka jangan bermain-main dengan hati seorang istri, karena itu bukan hanya soal perasaan, itu soal pertanggungjawaban di akhirat.”
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 21 bahwa Rasulullah SAW adalah teladan terbaik. Rasulullah, manusia paling mulia, tidak pernah merendahkan istrinya. Beliau berbicara dengan lembut. Beliau menghargai. Beliau menjaga. Ini adalah bukti bahwa kemuliaan seorang laki-laki justru terlihat dari bagaimana ia memperlakukan istrinya.
Suatu hari nanti, waktu akan membuat segalanya berubah. Wajah akan menua. Tubuh akan melemah. Kesibukan akan berakhir. Dan pada saat itu, yang tersisa bukan kekuasaan, bukan kekayaan, tetapi orang yang tetap setia. Jika hari ini engkau masih memiliki istri yang peduli, yang setia, yang tetap tinggal, maka sesungguhnya engkau memiliki nikmat yang sangat besar.
Jangan tunggu sampai dia berhenti peduli. Jangan tunggu sampai dia berhenti berharap. Jangan tunggu sampai penyesalan datang, ketika semuanya sudah terlambat. Karena seorang istri bisa bertahan dalam luka yang sangat lama, tetapi ketika hatinya benar-benar lelah, dia tidak akan pernah kembali menjadi wanita yang sama.
Memuliakan istri bukan hanya tentang menjaga rumah tangga. Itu adalah bukti iman. Itu adalah bukti akhlak. Dan itu adalah bukti apakah seorang suami benar-benar memahami amanah Allah, atau justru menyia-nyiakan salah satu titipan paling berharga dalam hidupnya.
(RED)











