Mantv7.com | BALARAJA — Kemeriahan Pekan Raya Balaraja (PRB) #2 memasuki hari kelima, Rabu malam (26/8/2026), dengan suasana yang semakin semarak. Di tengah antusiasme masyarakat yang hendak menikmati pertunjukan Dangdut Kobra Entertainment di Alun-Alun Balaraja, Letkol Inf. Dodi Fahrurrozi, M.M. memimpin apel bersama sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) sebagai bagian dari penguatan koordinasi untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan kenyamanan selama kegiatan berlangsung.
Apel tersebut bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi momentum menyatukan persepsi dan koordinasi antarormas. Hadir sejumlah perwakilan ormas yang diwakili oleh Pemuda Pancasila (PP) Heri Jack/Aan Batak, Lembaga Merah Putih Indonesia (LMPI) Zarkasih S. H., Bacung, Gabeng beserta anggota, Satria Banten (PPBNI) Rouf beserta anggota, Badan Pembinaan Potensi Keluarga Besar Banten (BPPKB) Kobra beserta anggota, Laskar Merah Putih (LMP) H. Ali beserta anggota, Badak Banten Abeng beserta anggota, Satgas Banten TTKKDH Tb. Bayu Dy (Allen) beserta anggota, Laskar Pendekar Banten Sejati (LAPBAS) beserta anggota Jawa/Ma’ruf, serta Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu Jaya (GRIB) Eko beserta anggota.

Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa menjaga suasana kondusif dalam sebuah pesta rakyat membutuhkan kerja bersama. Ketika jumlah pengunjung bertambah, aktivitas ekonomi bergerak, pedagang melayani pembeli, keluarga berkumpul, dan panggung hiburan dipadati penonton, koordinasi menjadi kunci agar kegembiraan tidak berubah menjadi persoalan yang mengganggu masyarakat lainnya.
Dalam konteks itulah kepemimpinan dan komunikasi lapangan menjadi penting. Arahan yang disampaikan dalam apel diarahkan untuk menjaga ketertiban, membangun komunikasi antarelemen, serta mengutamakan pendekatan yang persuasif dan bertanggung jawab. Pesan tersebut relevan karena keamanan bukan semata-mata soal mengantisipasi gangguan, tetapi juga menciptakan rasa nyaman agar masyarakat dapat menikmati ruang publik tanpa rasa khawatir.
PRB #2 sendiri telah berkembang menjadi ruang pertemuan masyarakat dengan wajah yang beragam. Sejak pembukaan pada Sabtu (22/8), rangkaian kegiatan menghadirkan musik, budaya, UMKM, bazaar, pameran, komunitas, olahraga, perlombaan, kegiatan sosial hingga agenda keagamaan. Karena itu, pengamanan yang terkoordinasi menjadi bagian penting dari keberhasilan penyelenggaraan, terutama ketika kegiatan memasuki agenda hiburan dengan daya tarik massa yang tinggi.

Hari kelima memiliki karakter tersendiri. Mulai pukul 19.30 WIB, Dangdut Kobra Entertainment dijadwalkan menghibur masyarakat di panggung PRB #2. Musik dangdut yang akrab di berbagai lapisan masyarakat berpotensi menghadirkan suasana yang lebih cair dan meriah. Di balik tepuk tangan, nyanyian, dan gerakan penonton, tetap diperlukan kesadaran bersama untuk menjaga ruang hiburan agar nyaman bagi semua kalangan.
Keterlibatan ormas dalam mendukung ketertiban juga perlu ditempatkan secara proporsional. Mereka dapat membantu melalui komunikasi, imbauan, koordinasi, dan kepedulian terhadap lingkungan kegiatan, namun tetap berada dalam batas kewenangan serta ketentuan yang berlaku. Bahwa pengamanan dan penegakan hukum merupakan kewenangan aparat yang berwenang, sementara masyarakat dapat mengambil peran positif dengan membantu menciptakan suasana yang tertib.
Prinsip tersebut sejalan dengan semangat kehidupan bermasyarakat bahwa setiap warga memiliki tanggung jawab menjaga ketertiban di lingkungan masing-masing. Ketika organisasi masyarakat mampu mengedepankan kedisiplinan, komunikasi, dan keteladanan, keberadaannya tidak hanya terlihat ketika acara berlangsung, tetapi juga dapat menjadi contoh bagaimana energi organisasi diarahkan untuk kepentingan bersama.
Di sisi lain, kegiatan masyarakat tetap harus berjalan dalam koridor hukum. Bahwa setiap orang memiliki hak untuk berkumpul, berinteraksi, menikmati hiburan, dan menggunakan ruang publik secara bertanggung jawab, tetapi hak tersebut berjalan beriringan dengan kewajiban menghormati keamanan, ketertiban, serta hak masyarakat lainnya. Karena itu, suasana kondusif tidak lahir dari satu pihak saja, melainkan dari kesadaran kolektif.
Bagi pelaku UMKM dan masyarakat sekitar, kondisi aman juga memiliki arti ekonomi. Semakin nyaman sebuah kegiatan, semakin terbuka kesempatan masyarakat untuk berjualan, memperkenalkan produk, bertemu pelanggan, dan menghidupkan aktivitas ekonomi lokal. Dengan demikian, pengamanan bukan hanya menjaga panggung tetap berjalan, tetapi turut menjaga agar manfaat sosial dan ekonomi PRB #2 dapat dirasakan lebih luas.
Rangkaian PRB #2 masih berlanjut hingga Minggu (30/8/2026). Setelah berbagai pertunjukan musik dan kegiatan masyarakat, agenda berikutnya mencakup perlombaan anak dan pelajar, kegiatan sosial seperti donor darah dan Terapi Qur’ani, hingga rangkaian penutup berupa Balaraja Berzikir dan Bershalawat. Setiap agenda membawa karakter pengunjung yang berbeda sehingga koordinasi lintas unsur tetap dibutuhkan dari hari ke hari.
Yang menarik dari apel tersebut bukan hanya siapa yang hadir, melainkan pesan yang dibawanya: perbedaan organisasi tidak harus menjadi sekat ketika kepentingan masyarakat menjadi tujuan bersama. Bahwa kebersamaan akan jauh lebih bermakna ketika diwujudkan melalui sikap saling menghormati, disiplin, komunikasi yang sehat, dan kesediaan menjaga ketertiban tanpa mengambil kewenangan pihak lain.
Pada akhirnya, PRB #2 bukan sekadar panggung untuk mendengar musik atau tempat berkumpulnya warga. Ia menjadi gambaran kecil tentang bagaimana sebuah ruang publik dapat hidup ketika hiburan, ekonomi kerakyatan, budaya, organisasi masyarakat, dan kepedulian sosial bergerak dalam satu irama.
Ketika masyarakat datang membawa kegembiraan, tugas semua pihak adalah memastikan mereka pulang membawa kenangan yang baik. Balaraja boleh berdendang dan bergoyang, tetapi ketertiban tetap menjadi nada yang menjaga seluruh pesta rakyat tetap indah.
(RED)











