BeritaNasionalPendidikan

Guru Pelosok Mengajarkan Makna Pengabdian, Menampar Kesadaran Pendidikan Kota dan Menghidupkan Harapan Anak Negeri

48
×

Guru Pelosok Mengajarkan Makna Pengabdian, Menampar Kesadaran Pendidikan Kota dan Menghidupkan Harapan Anak Negeri

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | PARIGI MOUTONG, SULAWESI TENGAH — Ada kisah tentang guru yang tidak lahir dari ruang rapat, seminar, atau gedung pendidikan megah. Kisah itu datang dari Riska Andriani, guru di SD Kecil Terpencil Ogolau, Kabupaten Parigi Moutong. Di tengah jalan yang berat, keterbatasan listrik dan sinyal, ia memilih tetap hadir. Bukan karena keadaan mudah, tetapi karena di hadapannya ada anak-anak yang membutuhkan seorang guru.

Riska harus menghadapi medan yang tidak sederhana untuk mencapai sekolah. Jalan setapak yang tertutup semak, tanah yang berubah menjadi lumpur ketika hujan, hingga perjalanan kaki menjadi bagian dari rutinitas pengabdiannya. Bagi sebagian orang, perjalanan itu mungkin terasa seperti pengorbanan besar. Bagi Riska, justru di situlah makna sederhana: guru harus hadir ketika murid membutuhkan.

Namun kisah ini sebenarnya BUKAN SOAL MBG. Inisiatif makanan bergizi yang dilakukan Riska secara mandiri dari dana pribadi dan bantuan donatur hanyalah salah satu potongan kecil dari cerita yang jauh lebih besar. Yang sedang dipertontonkan adalah keberanian seorang guru membaca kebutuhan murid, kemudian bergerak tanpa menunggu keadaan menjadi sempurna.

Di sinilah kisah tersebut terasa menembus hati para pendidik, terutama mereka yang bekerja di kota-kota besar. Bukan untuk membandingkan siapa yang lebih hebat, melainkan untuk mengingatkan bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang kurikulum, teknologi, fasilitas, dan administrasi. Pendidikan juga berbicara tentang kepekaan: mampukah seorang guru melihat kebutuhan anak sebelum kebutuhan itu berubah menjadi masalah yang lebih besar?

Riska merupakan lulusan PPG Prajabatan dan alumni Universitas Negeri Makassar. Bekal pendidikan yang dimilikinya tidak berhenti sebagai sertifikat atau gelar. Ia membawanya ke tempat yang menuntut praktik nyata. Ketika melihat anak didiknya membutuhkan perhatian terhadap asupan makanan, ia memilih melakukan sesuatu yang berada dalam kemampuannya.

Langkah itu patut diapresiasi, tetapi sekaligus perlu dibaca secara lebih kritis. Bahwa kepedulian seorang guru merupakan kekuatan moral, namun keterbatasan fasilitas pendidikan dan kebutuhan dasar anak tidak semestinya seluruhnya bergantung pada pengorbanan pribadi guru. Negara, pemerintah daerah, sekolah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan memiliki ruang tanggung jawab masing-masing.

Prinsip tersebut sejalan dengan semangat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan proses pembelajaran serta pemenuhan potensi peserta didik. Karena itu, perhatian terhadap anak tidak boleh berhenti pada keberadaan mereka di ruang kelas, tetapi juga harus melihat lingkungan dan kondisi yang memengaruhi proses belajar.

Begitu pula amanat UUD 1945 Pasal 31, bahwa pendidikan merupakan hak warga negara dan negara memiliki kewajiban dalam penyelenggaraannya. Artinya, ketika masih terdapat sekolah dengan tantangan akses, fasilitas, komunikasi, maupun kebutuhan dasar peserta didik, kisah Riska seharusnya tidak hanya menjadi bahan kekaguman, tetapi juga menjadi bahan evaluasi: apa yang masih harus diperbaiki?

Yuli Murtia, S.H., Kabid Literasi Pendidikan dan Hukum YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, menilai bahwa pengabdian Riska memberikan pelajaran penting bagi dunia pendidikan. “Guru seperti Riska mengingatkan kita bahwa pendidikan membutuhkan hati. Tetapi pengabdian guru jangan sampai dipahami sebagai alasan untuk membiarkan keterbatasan berlangsung. Justru pengabdian itu harus menjadi pemantik agar pemerintah dan masyarakat semakin serius menghadirkan dukungan pendidikan yang adil.”

Pesan itu sederhana, tetapi dalam. Guru tidak harus menjadi pahlawan yang bekerja sendirian. Guru membutuhkan ekosistem yang sehat agar energi mereka benar-benar digunakan untuk mendidik, bukan terus-menerus menutup lubang yang seharusnya menjadi perhatian bersama. MASIH BANYAK HAL PENTING YANG HARUS DIPERHATIKAN SELAIN SOAL MBG: akses sekolah, fasilitas, keselamatan perjalanan, listrik, komunikasi, kualitas pembelajaran, kesejahteraan pendidik, dan keberlanjutan pendidikan anak di wilayah terpencil.

Maka kepada para pengajar di kota-kota besar, kisah Riska bukanlah tudingan. INI ADALAH UNDANGAN UNTUK BERCERMIN. Jika seorang guru di pelosok mampu menemukan cara sederhana untuk membuat murid merasa diperhatikan, mungkin kita pun dapat bertanya: apa satu hal baik yang bisa kita lakukan hari ini untuk seorang anak di sekitar kita? Tidak harus besar. Kepedulian yang dilakukan dengan tulus sering kali justru tumbuh dari tindakan kecil yang konsisten.

Pada akhirnya, Riska tidak sedang mengajarkan cara memasak makanan bergizi. Ia sedang memperlihatkan bahwa profesi guru mempunyai dimensi kemanusiaan yang tidak selalu tertulis di buku pelajaran. Jalan berlumpur yang ia lewati seolah berkata bahwa pendidikan memang tidak selalu memiliki jalan yang mulus. Tetapi selama masih ada guru yang bersedia melangkah, masih ada anak yang mempunyai alasan untuk berharap.

Mungkin itulah anugerah terindah dari seorang guru: bukan karena ia mampu memberikan segala sesuatu, melainkan karena kehadirannya membuat seorang anak percaya bahwa masa depannya layak diperjuangkan.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks