AgamaArtikelBerita

Rela Membayar Mahal Demi Pencerahan, Padahal Al-Qur’an Sejak Lama Menyediakan Jalan Pulang

196
×

Rela Membayar Mahal Demi Pencerahan, Padahal Al-Qur’an Sejak Lama Menyediakan Jalan Pulang

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Di tengah riuhnya seminar motivasi, kelas berbayar, dan konten “healing instan” di media sosial, banyak orang lupa bahwa Islam melalui Al-Qur’an telah lebih dulu menghadirkan solusi hidup yang utuh. Al-Qur’an bukan kitab nostalgia atau cerita sejarah semata, melainkan hudā lin-nās, pedoman hidup yang relevansinya justru semakin terasa di tengah krisis zaman modern.

Fenomena stres, kecemasan, dan kelelahan mental hari ini sering dipoles menjadi komoditas. Ada yang menjual motivasi, ada pula yang menawarkan “ketenangan” berbayar. Padahal, Al-Qur’an sejak awal telah menegaskan bahwa ketenangan sejati bukan datang dari sorak sorai kata-kata, melainkan dari kedekatan batin dengan Tuhan. “Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram,” (QS. Ar-Ra’d: 28), sebuah konsep self-healing yang jauh lebih dalam dari sekadar afirmasi kosong.

Al-Qur’an juga membangun ketangguhan mental. Ia tidak menjanjikan hidup tanpa masalah, tetapi menjamin bahwa setiap kesulitan selalu berdampingan dengan kemudahan (QS. Al-Insyirah: 5–6). Di saat banyak orang merasa kalah sebelum berjuang, ayat ini mengajarkan resiliensi: bahwa manusia tidak pernah diuji di luar batas kemampuannya (QS. Al-Baqarah: 286). Ini bukan teori motivasi, tapi prinsip hidup.

Masuk ke ruang digital, persoalan lain muncul: hoaks, fitnah, dan komentar tanpa nurani. Media sosial sering menjadi panggung emosi, bukan akal sehat. Menariknya, Al-Qur’an sudah sejak lama mewanti-wanti bahaya informasi yang tidak diverifikasi. Prinsip tabayyun (QS. Al-Hujurat: 6) menegaskan bahwa menyebarkan kabar tanpa cek fakta bukan sekadar ceroboh, tapi bisa mencelakakan banyak orang.

Lebih jauh, Al-Qur’an menekankan etika berbicara melalui konsep qaulan sadida berkata benar, jujur, dan tidak berbelit (QS. Al-Ahzab: 70). Ini menjadi tamparan halus bagi budaya konten yang gemar memelintir narasi demi klik, popularitas, atau kepentingan tertentu. Islam tidak mengajarkan ramai, tapi bertanggung jawab.

Dalam urusan ekonomi, Al-Qur’an juga hadir sebagai penyeimbang. Di saat gaya hidup konsumtif dipromosikan tanpa henti, Al-Qur’an melarang pemborosan sekaligus kekikiran (QS. Al-Isra: 26–27). Prinsip moderasi ini relevan ketika banyak orang terjebak citra kaya palsu, sementara empati sosial justru menipis.

Konsep zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar ibadah ritual, melainkan sistem keadilan sosial. Al-Qur’an menegaskan agar harta tidak hanya berputar di kalangan orang kaya saja (QS. Al-Hasyr: 7). Ini adalah kritik halus terhadap sistem ekonomi yang timpang, sekaligus pengingat bahwa kesejahteraan sejati lahir dari berbagi, bukan menumpuk.

Isu lingkungan pun tak luput dari perhatian Al-Qur’an. Ketika krisis iklim menjadi ancaman nyata, Al-Qur’an menegaskan posisi manusia sebagai khalifah fil ardh pengelola bumi, bukan perusaknya. Larangan membuat kerusakan di muka bumi (QS. Al-A’raf: 56) terasa sangat relevan di tengah eksploitasi alam yang sering dibungkus dalih pembangunan.

Dalam kehidupan sosial, Al-Qur’an juga mengajarkan inklusivitas. Perbedaan suku, bangsa, dan latar belakang bukan alasan untuk saling merendahkan, melainkan sarana untuk saling mengenal (*lita’arafu*) (QS. Al-Hujurat: 13). Sebuah pesan yang terasa penting di tengah maraknya polarisasi dan konflik identitas.

Lebih dari itu, Al-Qur’an menuntut keadilan tanpa syarat emosional. Bahkan kepada orang yang tidak disukai, manusia tetap diperintahkan berlaku adil (QS. Al-Ma’idah: 8). Prinsip ini menampar budaya perundungan, pembunuhan karakter, dan penghakiman massal yang kerap terjadi di ruang publik.

Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, selaku Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa). Foto: Mantv7.com

Dalam konteks itulah, Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa), Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, memberikan penegasan yang mengena. Dengan gaya tegas berbalut jenaka, ia menyebut bahwa Al-Qur’an adalah “clue”, petunjuk arah, kompas hidup yang sengaja Allah turunkan untuk manusia. Namun ironisnya, banyak orang justru sibuk mencari arah ke sana kemari, padahal peta keselamatan sudah ada di tangan mereka sendiri.

“Kalau tersesat lalu bertanya ke orang, itu manusiawi. Tapi kalau petunjuknya sudah Allah berikan, lalu kita abaikan, itu bukan salah jalannya itu salah kita,” ujar Ustadz Ambia. Pernyataan ini sekaligus menyentil fenomena umat yang rajin mendengar ceramah motivasi dan solusi instan, tetapi enggan membuka Al-Qur’an sebagai rujukan utama dalam mengambil keputusan hidup.

Pada akhirnya, Al-Qur’an tidak pernah tertinggal oleh zaman yang sering terjadi justru manusia yang meninggalkannya. Petunjuk itu tetap utuh, arah itu tidak berubah. Persoalannya tinggal satu: apakah kita mau kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai kompas hidup, atau terus berjalan tanpa arah sambil menyalahkan keadaan.

(OIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks