Mantv7.com | Kabupaten Tangerang —Di Tigaraksa, sebuah wilayah yang dikenal religius dan kental nilai keislaman, hadir proyek pemakaman Muslim modern dengan taman hijau bernuansa Maroko. Narasinya indah. Kata-katanya lembut. Mengusung agama, spiritualitas, dan janji keteduhan. Namun di balik itu semua, hati warga sekitar justru terasa perih.
Pertanyaannya sederhana, tapi menghantam nurani:untuk siapa pemakaman mewah itu dibangun, sementara tetangganya sendiri masih bertanya tentang hak dan keadilannya?
Allah SWT berfirman: “Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh…”(QS. An-Nisa: 36).
Ayat ini menempatkan tetangga sebagai subjek utama kebaikan. Maka ketika warga sekitar merasa diabaikan, tidak dilibatkan, bahkan penolakannya seolah menguap tanpa jawaban, publik patut bertanya: di mana letak rahmat itu bermula?

Pihak pengembang menyebut proyek ini membawa manfaat ekonomi dan lapangan kerja. Namun bagi warga dengan pendapatan per kapita yang jauh dari kategori menengah ke atas, manfaat itu patut diduga terasa timpang.
Pekerjaan yang tersedia bersifat informal dan berupah rendah. Sementara kenaikan nilai tanah dan NJOP justru berpotensi menambah beban hidup. Yang kaya bertambah pilihan, yang sederhana bertambah tekanan.
Allah SWT mengingatkan: “Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”(QS. Al-Hasyr: 7).
Jika sebuah proyek besar berdiri megah, namun tidak menghadirkan keadilan distribusi manfaat bagi warga sekitar, maka wajar bila hati masyarakat bertanya: apakah ini ibadah, atau hanya bisnis yang mengenakan jubah agama?
Pemakaman ini mengatasnamakan Islam, bahkan disebut sebagai pemakaman Muslim modern. Namun Islam bukan sekadar nama dan simbol. Islam adalah akhlak, keadilan, dan keberpihakan pada yang lemah.
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak beriman seseorang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.”(HR. Bukhari dan Muslim).
Ketika warga sekitar menolak karena khawatir terhadap dampak sosial dan lingkungan, namun suara mereka tak terdengar dalam ruang keputusan, maka nilai rahmatan lil ‘alamin itu patut dipertanyakan, bahkan disinyalir tereduksi menjadi slogan pemasaran.
Layakkah Kemewahan di Tanah Santri?
Proyek ini disebut seluas 30–32 hektare, lengkap dengan masjid, lounge, restoran, area bermain anak, hingga fasilitas modern lainnya. Secara visual, ini mungkin memesona. Namun secara batin, sebagian warga merasa asing di tanahnya sendiri.
Tigaraksa bukan kawasan elit. Ia tumbuh dari kesederhanaan, pengajian, pesantren, dan nilai kebersamaan. Maka ketika pemakaman dihadirkan dengan nuansa kemewahan, muncul kegelisahan: apakah kesederhanaan Islam sedang digeser oleh estetika komersial?
Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong.”(QS. Al-Isra: 37).
Makam dalam Islam adalah pengingat kematian, bukan etalase status sosial. Jika fasilitas hanya dapat diakses oleh kalangan tertentu, maka inklusivitas yang dijanjikan berpotensi hanya hidup di brosur.
Bungkamnya Penguasa, Sunyi bagi Warga
Yang paling menyayat adalah diamnya para pemangku kebijakan. Dari desa hingga dinas, suara resmi nyaris tak terdengar. Tidak ada penjelasan utuh, tidak ada dialog terbuka, tidak ada upaya menenangkan kegelisahan warga.
Padahal Allah SWT mengingatkan: “Dan janganlah kamu menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya.”(QS. Al-Baqarah: 42).
Diam di tengah kegelisahan publik bukanlah netralitas. Diam justru membuka ruang prasangka dan memperkuat dugaan pembiaran.

Buyung, E., aktivis sosial Kabupaten Tangerang dari YLPK PERARI, menyampaikan dengan nada lirih namun tegas: “Kalau ini benar proyek Islami, maka warga sekitar seharusnya paling pertama merasakan rahmatnya. Jangan sampai agama hanya dijadikan pembungkus, sementara keadilan ditinggalkan.”

Polemik ini bukan sekadar soal izin, desain, atau investasi. Ini tentang hati manusia yang merasa dilupakan, tentang warga yang bertanya dengan suara pelan, namun tak kunjung dijawab.
Islam mengajarkan, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Jika manfaat itu tidak menyentuh tetangga terdekat, maka publik berhak bertanya dengan jujur dan pedih:
Di mana rahmatan lil ‘alamin itu bersemayam?
(RED)











