BeritaKabupatenPemerintahan

Mari Menundukkan Kepala Bersama, Mengangkat Doa untuk Negeri yang Sedang Diuji

78
×

Mari Menundukkan Kepala Bersama, Mengangkat Doa untuk Negeri yang Sedang Diuji

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Hari Jumat kembali menyapa kita, membawa ketenangan yang sering kali kita rindukan di tengah padatnya kehidupan. Dalam Islam, Jumat bukan sekadar penanda waktu, tetapi ruang perenungan bersama. Ia mengajak kita berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan mengingat bahwa kita semua adalah hamba yang saling membutuhkan satu sama lain.

Beberapa bulan terakhir, sejak November 2025 hingga Januari 2026, negeri ini menghadapi ujian yang tidak ringan. Banjir, longsor, dan aktivitas gunung api terjadi di berbagai wilayah. Bukan untuk menimbulkan ketakutan, melainkan sebagai pengingat bahwa hidup ini berjalan di bawah ketentuan Allah ﷻ, dan bahwa empati adalah bahasa iman yang paling jujur.

Di Sumatera, musibah datang begitu berat. Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat merasakan dampak yang dalam. Banyak saudara kita kehilangan rumah, harta, bahkan orang-orang tercinta. Duka mereka adalah duka kita bersama, meski jarak memisahkan dan kita mungkin tak saling mengenal.

Pulau Jawa pun diuji dengan banjir dan longsor. Jabodetabek, Bandung Raya, Demak, hingga Sumedang menjadi saksi bagaimana alam mengingatkan manusia akan keterbatasannya. Semua ini bukan untuk menunjuk kesalahan, melainkan untuk menguatkan rasa kebersamaan dan saling mendoakan.

Di Bali dan Nusa Tenggara, banjir bandang dan aktivitas vulkanik kembali terjadi. Semeru, Merapi, dan Lewotobi Laki-laki menunjukkan aktivitas tinggi. Setiap dentuman dan guguran menjadi isyarat bahwa manusia perlu lebih sering berhenti, menenangkan diri, dan kembali menggantungkan harapannya kepada Allah ﷻ.

Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, selaku Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa). Foto: Mantv7.com

Ketua Umum JAMDAL, Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, mengajak umat Islam untuk melihat musibah dengan hati yang jernih. “Dalam setiap ujian, Allah mengajarkan kita untuk saling mendoakan, bukan saling menyalahkan. Doa adalah bentuk kasih sayang yang paling tulus,” ungkapnya.

Hari Jumat memiliki keistimewaan tersendiri. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa ada waktu mustajab di hari ini, ketika doa seorang hamba tidak ditolak. Inilah kesempatan kita untuk bersama-sama menghadirkan doa terbaik, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk saudara-saudara kita yang sedang diuji.

Mendoakan orang lain bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan hati. Ketika tangan diangkat dan kepala tertunduk, kita sedang belajar merendahkan ego, menumbuhkan empati, dan mempererat ikatan sebagai satu bangsa. Doa yang dipanjatkan bersama memiliki daya yang menenangkan, baik bagi yang mendoakan maupun yang didoakan.

Di tengah status waspada cuaca ekstrem yang masih diberlakukan di banyak wilayah, ikhtiar terus berjalan. Namun Islam selalu mengajarkan keseimbangan: antara usaha lahir dan ketenangan batin. Doa, sedekah, dan kepedulian sosial adalah bentuk ikhtiar sunyi yang sering kali membawa keberkahan besar.

Maka, di hari Jumat ini, marilah kita menundukkan kepala bersama-sama. Mengangkat tangan tanpa prasangka, tanpa penilaian, hanya dengan harapan dan kasih sayang. Kita panjatkan doa agar saudara-saudara kita yang tertimpa musibah diberi kekuatan, ketabahan, dan pertolongan.

Karena sejatinya, musibah bukan cerita tentang mereka semata, melainkan pengingat bagi kita semua. Bahwa kita adalah satu, saling terhubung, dan selalu memiliki ruang untuk saling mendoakan.

Dari doa yang sederhana, semoga Allah ﷻ menurunkan rahmat dan keselamatan bagi negeri yang kita cintai bersama.

(OIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks