Mantv7.com | Tangerang, 25 Januari 2026 – Malam Isra’ Mi’raj adalah momen paling agung dalam sejarah Islam, di mana Nabi Muhammad SAW, kekasih Allah, diangkat dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, kemudian naik ke langit hingga Sidratul Muntaha. Perjalanan ini bukan sekadar mukjizat fisik, tetapi manifestasi cinta abadi beliau kepada seluruh umat manusia.
Perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW adalah perjalanan spiritual luar biasa dalam semalam dari Masjidil Haram (Mekah) ke Masjidil Aqsa (Palestina) (Isra), lalu naik ke langit ketujuh hingga Sidratul Muntaha (Mi’raj) dengan mengendarai Buraq dan ditemani Malaikat Jibril, di mana beliau menerima perintah salat lima waktu langsung dari Allah SWT.
Setiap langkah Nabi, setiap tatapan, bahkan setiap doa yang beliau panjatkan dalam perjalanan ini adalah wujud kasih yang menembus waktu dan ruang, hanya untuk kita, umatnya. Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa cinta sejati adalah keberkahan yang menyejukkan jiwa. Nabi Muhammad SAW bersaksi kepada kita melalui mukjizatnya: kasih beliau tak terhingga, melebihi batas kesadaran manusia, senantiasa memandu umat agar selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan penuh ketulusan. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami mengutus engkau (Muhammad) sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).Inilah bukti nyata bahwa cinta Nabi bukan sekadar kata, tapi energi spiritual yang mengalir dalam setiap ibadah kita.
Terlampir dalam potongan video tiktok @q_jerno berisi kisah ketika Nabi Muhammad SAW menghadapi sakaratul maut, cinta Nabi kepada umatnya semakin bersinar nyata. Diriwayatkan, saat sakit keras menjelang wafat, beliau bersabda kepada istri dan sahabat: “Ya Allah, jangan Engkau timpakan kesedihan atau sakit-Ku kepada umat-Ku.”Kata-kata ini mengandung hikmah yang mendalam: bahwa belas kasih Nabi melebihi rasa sakit dirinya sendiri, dan bahwa setiap penderitaan beliau tidak ingin menjadi beban bagi kita. Inilah manifestasi cinta tak bersyarat yang mampu menggetarkan hati.
Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, Ketua Umum JAMDAL, menegaskan: “Cinta Nabi Muhammad SAW adalah cahaya yang membimbing, melindungi, dan menyelamatkan. Saat beliau menghadapi sakaratul maut, kita belajar bahwa kasih beliau abadi, mengalir kepada umat tanpa henti, menjadi teladan kesabaran, empati, dan pengorbanan spiritual.”Statement ini menegaskan bahwa cinta Nabi bukan sekadar simbol, tetapi energi yang membentuk iman, akhlak, dan perilaku umat secara nyata.

Dalam perspektif edukatif, Isra’ Mi’raj dan doa Nabi saat sakaratul maut mengajarkan bahwa cinta sejati adalah kepedulian yang menembus ujian, kesulitan, dan rasa sakit. Visualisasi perjalanan Nabi, bercahaya dan dipenuhi rahmat, mengilhami umat untuk menebarkan kasih melalui doa, shalawat, dan perilaku nyata yang menyejukkan hati orang lain.
Praktik nyata dari cinta ini adalah memperbanyak shalawat, doa untuk keselamatan umat, serta kepedulian sosial. Setiap amal baik yang dilakukan dengan niat tulus adalah gema cinta Nabi yang mengalir dalam hati kita, menyejukkan jiwa, dan memotivasi kita untuk meneladani beliau. Allah SWT berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Maidah: 2)Pesan ini membuat pembaca merasakan cinta Nabi yang menghidupkan hati dan memandu perilaku sehari-hari.
Dimensi spiritual dari sabda Nabi saat sakaratul maut juga menekankan kesabaran, ketulusan, dan empati. Saat menghadapi penderitaan, kita belajar meneladani Nabi: tidak egois, selalu mendoakan kebaikan untuk orang lain, dan menjaga hati tetap murni. Cinta beliau bukan hanya kata-kata, tetapi prinsip hidup yang membentuk karakter umat.
Isra’ Mi’raj dan sabda beliau membimbing kita untuk memahami bahwa iman, amal, dan kasih sayang adalah kesatuan spiritual yang saling memperkuat. Visualisasi cinta Nabi yang abadi memungkinkan pembaca merasakan sentuhan nyata kasih beliau, sehingga setiap tindakan yang dilakukan dengan niat tulus menjadi wujud nyata dari rahmat beliau.
Inovasi edukatif dari peristiwa ini menekankan bahwa cinta Nabi adalah pengalaman hidup yang dapat dirasakan dan diamalkan, bukan sekadar cerita sejarah. Setiap amal baik yang dilakukan dengan niat ikhlas adalah perwujudan kasih beliau yang mengalir melalui hati kita, membimbing kita menjadi manusia yang penuh empati, sabar, dan peduli.
Isra’ Mi’raj dan doa Nabi menjelang wafat mengajarkan kita bahwa cinta yang benar adalah mengutamakan kesejahteraan orang lain bahkan ketika diri sendiri sedang menderita. Visualisasi ini membuat pembaca melihat teladan Nabi sebagai jalan hidup yang nyata, menggerakkan hati untuk selalu berbuat baik, menebar kasih, dan memperbanyak amal shalih.
Menghayati kedalaman cinta Nabi melalui Isra’ Mi’raj dan pesan beliau saat sakaratul maut memberi umat panduan hidup yang harmonis: iman yang teguh, amal yang tulus, dan hati yang dipenuhi kasih sayang. Dengan internalisasi ini, setiap ibadah menjadi sarana menyalurkan cinta Nabi, menenangkan jiwa, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, menjadikan spiritualitas Islami edukatif, inovatif, inspiratif, dan motivatif.
Akhirnya, memahami Isra’ Mi’raj bersamaan dengan cinta Nabi di sakaratul maut memberikan kita panduan praktis untuk hidup yang penuh rahmat: meneladani Nabi Muhammad SAW, menebar kasih, memperkuat iman, dan merasakan cinta beliau yang abadi mengalir di setiap detik kehidupan umatnya. Inilah hakikat spiritual yang menginspirasi, mendidik, dan menyentuh hati pembaca secara nyata.
(RED)











