Mantv7.com | Menjelang datangnya Ramadhan, ada seorang anak menatap langit senja. Hatinya basah oleh rindu yang lembab. Ia menutup mata dan berbisik, “Ayah… Ibu… bagaimana kabar kalian di sana? Apakah kalian baik-baik saja?” Angin yang lembut membawa bayangan sungai-sungai yang mengalir dengan air susu, tempat ia percaya orang tuanya tersenyum, sehat, dan bahagia tanpa sakit.
Bunga matahari tiba-tiba mekar di taman imajinasinya, seakan orang tuanya hadir melalui hangatnya warna kuning itu. Meski bicara lewat bayangan, ia menceritakan bagaimana hidupnya tanpanya: tawa yang pecah sendiri, air mata yang menetes diam-diam, dan penyesalan yang bertubi-tubi karena kata yang tak sempat diucapkan.
Setiap doa di bulan Ramadhan ia panjatkan dengan hati tulus. Ia tersenyum sendiri sambil bertanya dalam hati, “Apakah kalian di sana bahagia? Apakah sungai-sungai itu benar-benar ada? Apakah kalian bisa tertawa seperti dulu?” Kerinduan itu menetes di dada, menjadi pengingat untuk menghargai waktu bersama orang yang kita sayangi.
Tawa kecilnya terdengar sendiri di ruang sepi. Kadang ia tersenyum menatap kenangan, kadang meneteskan air mata. Ia menyadari, cinta baru terasa sepenuhnya ketika orang tua tiada. Ia belajar bahwa kehilangan dan kasih sayang berjalan beriringan, dan setiap detik harus diisi dengan syukur, doa, dan kenangan indah.
Ia membayangkan orang tuanya bercanda seperti dulu, menikmati kebahagiaan sederhana, membimbingnya lewat imaji bunga matahari dan sungai susu. “Benarkah mereka suka bercanda?” bisiknya, berharap suara hatinya sampai ke langit, dan senyum orang tuanya tetap hadir meski ia tak dapat melihatnya.
Dalam keheningan malam Ramadhan, anak itu menutup mata dan membisikkan doa untuk orang tua dan dirinya sendiri. Ia menata hati, belajar merasakan sukacita meski sendiri, dan percaya orang tuanya tetap hadir di setiap doa, tarawih, dan sahur yang ia lalui.
Kadang rindu itu begitu pekat, membuatnya menangis sendirian. Tapi ia juga belajar menjadi lucu, menjadi menyenangkan seperti yang dulu selalu dikatakan orang tuanya: jalani hidup dengan penuh sukacita, meski mereka tiada di sisinya. Setiap langkahnya menjadi doa, setiap tawa menjadi penghormatan pada cinta yang abadi.
Ia menatap langit malam yang sama yang dulu dilihat bersama orang tuanya, membayangkan tangan yang menuntunnya dari jauh. Sungai susu, tawa lembut, pelukan hangat semua hadir dalam lamunannya, membentuk dunia di mana rindu dan cinta tak pernah berakhir.

Menanggapi kisah ini, Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa), menyampaikan:“Ramadhan adalah momen menyucikan hati. Anak yang rindu orang tuanya bisa menyalurkan kasihnya lewat doa, amalan, dan kenangan baik. Setiap tawa, setiap doa, dan setiap perbuatan baik yang dilakukan dengan niat tulus akan menjadi amal yang terus mengalir bagi mereka yang telah tiada.”
Ramadhan kali ini jadi saksi, bahwa meski orang yang kita sayangi tiada, kita tetap bisa merasakan kehangatan mereka lewat kenangan, doa, dan rasa syukur. Anak itu menatap bulan dan bintang, tersenyum sendiri, menyadari cinta yang tulus tetap hidup meski jauh.
Ia kembali bertanya lirih di hati, “Mungkinkah kau mampir hari ini? Jika tidak mirip kau, jadilah bunga matahari yang tiba-tiba mekar di taman…” Doa dan tawa itu menyatu, menjadi pengingat bahwa cinta dan kerinduan bisa menuntun kita pada kedamaian batin.
Dan pelajaran terbesar Ramadhan tahun ini adalah, setiap cinta yang dirasakan, setiap tawa yang dibagikan, dan setiap doa yang dipanjatkan akan terus hadir, menyentuh hati kita dan mereka yang kita cintai, selamanya.
Narasi ini merupakan refleksi puitis yang terinspirasi dari lagu “Gala Bunga Matahari” Sal Priadi dan kisah kerinduan anak kepada orang tua. Imaji dan ilustrasi bersifat simbolis dan edukatif, mengajak pembaca untuk merasakan dan menyalurkan kasih sayang di bulan Ramadan.
(RED)











