AgamaBeritaNasionalVideo

Tinggal Menghitung Jam, Ramadhan Akan Tiba: Sudah Siapkah Hati Kita?

88
×

Tinggal Menghitung Jam, Ramadhan Akan Tiba: Sudah Siapkah Hati Kita?

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Tinggal menghitung jam, Ramadhan akan tiba. Waktu seperti berjalan lebih pelan, seakan memberi kita kesempatan terakhir untuk bersiap. Bukan hanya menyiapkan menu sahur atau jadwal berbuka, tapi menyiapkan hati yang mungkin selama ini terlalu sibuk dengan dunia.

Ramadhan datang bukan untuk sekadar lewat. Ia hadir seperti tamu mulia yang mengetuk pintu jiwa. Pertanyaannya sederhana tapi dalam: apakah kita menyambutnya dengan rindu, atau biasa saja seperti bulan-bulan sebelumnya? Karena bulan ini bukan tentang suasana, melainkan tentang perubahan seperti uraian kata hati yang terlampir dalam video pendek di akun tiktok @jalur_l4ngit.

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah cermin kejujuran. Saat tidak ada yang melihat, kita tetap memilih taat. Di situ terlihat siapa diri kita sebenarnya. Ramadhan mengajarkan bahwa iman tidak butuh panggung, ia butuh kesungguhan.

Menahan makan itu mudah dibanding menahan amarah. Menahan minum lebih ringan daripada menahan lisan dari menyakiti. Di sinilah latihan sesungguhnya dimulai. Kita diajak menundukkan ego, meredam gengsi, dan mengakui kesalahan yang mungkin lama kita abaikan.

Ketika malam tiba, suasana berubah menjadi lebih hening. Sujud terasa lebih lama, doa terasa lebih dalam. Ada hati yang selama ini keras, mulai retak oleh tangisnya sendiri. Air mata yang jatuh di sepertiga malam sering kali menjadi saksi penyesalan yang tak pernah terucap.

Membaca ayat suci dan berzikir bukan hanya rutinitas, tapi cara membersihkan luka batin. Setiap kalimat yang dilafalkan seperti menenangkan kegelisahan yang tak terlihat. Ramadhan pelan-pelan menyentuh sisi paling sunyi dalam diri kita.

Lapar yang kita rasakan seharian juga mengajarkan empati. Kita mulai membayangkan mereka yang menahan perut kosong bukan karena ibadah, tapi karena tidak punya pilihan. Dari rasa itu tumbuh kepedulian yang lebih nyata.

Zakat dan sedekah bukan hanya kewajiban, tapi cara meruntuhkan kesombongan. Saat tangan memberi, hati belajar merendah. Rezeki yang kita kira milik sendiri ternyata ada bagian orang lain di dalamnya. Memberi bukan membuat berkurang, justru membuat jiwa terasa lebih cukup.

Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, selaku Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa). Foto: Mantv7.com

Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa), mengingatkan bahwa Ramadhan adalah momen memperbaiki akhlak, bukan sekadar memperbanyak ibadah. “Kalau hati kita tidak lebih lembut setelah Ramadhan, berarti kita belum benar-benar memaknainya,” tuturnya. Pesan ini seakan menampar dengan lembut, tapi dalam.

Semua ibadah di bulan ini saling terhubung. Puasa melatih sabar, tarawih menguatkan iman, doa melembutkan hati, sedekah menumbuhkan kasih. Jika dijalani dengan sungguh-sungguh, Ramadhan bisa menjadi titik balik, bukan hanya jeda sementara.

Tinggal menghitung jam, Ramadhan akan tiba. Jangan biarkan ia datang dan pergi tanpa bekas. Sambut dengan hati yang siap berubah, dengan niat yang sungguh-sungguh. Siapa tahu ini Ramadhan terakhir kita. Jangan tunggu esok untuk memperbaiki diri, karena yang pasti hanya hari ini.

(OIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks