AgamaBeritaGaya Hidup & BudayaKabupatenPemerintahan

Ramadhan Hari ke-9: Jangan Biarkan Orang Tua Kita Pergi, Baru Kita Sadar Kita Belum Jadi Anak yang Cukup

102
×

Ramadhan Hari ke-9: Jangan Biarkan Orang Tua Kita Pergi, Baru Kita Sadar Kita Belum Jadi Anak yang Cukup

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Ramadhan sudah masuk hari ke-9. Waktu berjalan tanpa suara, tapi diam-diam ia mengambil banyak hal dari hidup kita. Ada yang tahun lalu masih sahur bersama, masih duduk di ujung meja, masih bertanya, “Sudah makan?” Hari ini, kursi itu kosong. Dan yang lebih menyakitkan, kita tidak pernah tahu kapan kursi itu akan kosong untuk selamanya.
Lirik lagu Sisi Potret dari Enau seperti suara hati yang terlambat bicara: “Tahun lalu berjuta alasanku, maaf tak bisa pulang.” Kita semua pernah menjadi anak yang menunda pulang. Menunda menelepon. Menunda duduk sebentar hanya untuk mendengar cerita yang sebenarnya sudah pernah kita dengar berulang kali. Kita sibuk hidup, sementara mereka sibuk menua.

Orang tua tidak pernah meminta banyak. Mereka tidak meminta harta kita. Mereka tidak meminta kesuksesan kita. Mereka hanya meminta kita tetap ada. Tetap menjadi anak yang dulu mereka gendong, yang dulu mereka jaga semalaman saat sakit. Tapi sering kali, justru kita yang menjauh, seolah mereka akan selalu punya waktu menunggu.

Padahal setiap malam, ada doa yang mereka bisikkan hanya untuk kita. Mereka menyebut nama kita di hadapan Allah, bahkan saat kita lupa menyebut nama mereka dalam doa kita. Mereka meminta kita dilindungi, dimudahkan, dijauhkan dari kesusahan. Mereka mencintai kita dalam diam, dengan cara yang bahkan tidak pernah bisa kita balas sepenuhnya.

Lalu suatu hari, lirik itu menjadi nyata: “Dan tahun ini kubisa pulang, tapi anehnya, bukan kau yang menyambutku.” Rumahnya masih sama. Pintunya masih sama. Tapi tidak ada lagi suara yang memanggil nama kita. Tidak ada lagi tangan yang menepuk bahu kita. Tidak ada lagi doa yang diucapkan langsung di hadapan kita. Yang tersisa hanya sunyi.

Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, selaku Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa). Foto: Mantv7.com

Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, Ketua Umum JAMDAL, pernah mengingatkan dengan kalimat yang sangat sederhana tapi menghancurkan hati, “Banyak anak menangis bukan karena kehilangan harta, tapi karena kehilangan kesempatan memuliakan orang tuanya saat mereka masih hidup.” Karena ketika orang tua sudah pergi, yang tersisa hanya maaf yang tidak sempat diucapkan.

Ramadhan adalah bulan di mana hati dibuat lembut. Lapar dan haus bukan untuk menyiksa tubuh, tapi untuk membuka hati. Agar kita ingat, ada dua manusia yang dulu menahan lapar demi kita. Ada dua manusia yang rela lelah demi melihat kita tumbuh. Dan hari ini, mungkin mereka hanya menunggu satu hal sederhana: perhatian kita.

Lirik, “Ku bertamu ke rumah barumu, hanya papan dan namamu,” adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari siapa pun. Suatu hari, kita mungkin berdiri di depan tanah yang diam. Kita berbicara, tapi tidak ada jawaban. Kita menangis, tapi tidak ada pelukan. Saat itu, kita akan sadar, bahwa yang paling kita rindukan bukan rumahnya, tapi orangnya.

Ramadhan hari ke-9 ini masih memberi kita waktu. Jika orang tua kita masih ada, jangan tunda. Jangan tunggu sukses. Jangan tunggu kaya. Jangan tunggu nanti. Karena mereka tidak butuh itu. Mereka hanya butuh kita. Suara kita. Kehadiran kita. Cinta kita.

Jangan sampai suatu hari, kita hanya bisa melihat foto mereka, dan berbisik, “Andai aku bisa kembali.” Karena waktu tidak pernah kembali. Dan penyesalan tidak pernah menghidupkan siapa pun.

Ramadhan tidak datang dua kali dalam waktu yang sama. Orang tua juga tidak akan hidup dua kali. Selagi mereka masih bernapas, bahagiakan mereka. Karena suatu hari nanti, tanpa kita sadari, merekalah yang akan menjadi “sisi potret” dan saat itu, air mata kita tidak akan pernah cukup untuk menghapus penyesalan.

(OIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks