AgamaArtikelBeritaNasionalVideo

Keras Mengejar Dunia, Tapi Lupa kepada Pemilik Dunia: Pesan “Ora Et Labora” dari Ge Pamungkas Ini Menyentuh Hati Banyak Orang Tentang “Tawakal” Kita

123
×

Keras Mengejar Dunia, Tapi Lupa kepada Pemilik Dunia: Pesan “Ora Et Labora” dari Ge Pamungkas Ini Menyentuh Hati Banyak Orang Tentang “Tawakal” Kita

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Jagat media sosial mendadak dibuat hening oleh sebuah potongan video dari podcast “Daniel Tetangga Kamu” yang tayang di kanal YouTube Daniel Mananta Network. Cuplikan percakapan antara Ge Pamungkas dan Daniel Mananta itu viral di TikTok, Instagram, hingga platform X setelah ribuan warganet mengaku tersentuh, menangis, bahkan merasa seperti sedang ditegur langsung tentang cara mereka menjalani hidup selama ini.

Dalam podcast tersebut, Ge Pamungkas menyampaikan pandangannya mengenai manusia yang terlalu sibuk mengejar dunia, namun perlahan lupa kepada Pemilik dunia itu sendiri. Dengan nada santai namun penuh makna, Ge mengaku baru memahami arti ketenangan hidup setelah menyadari bahwa manusia boleh memiliki rencana sebesar apa pun, tetapi Tuhan tetap menjadi penentu jalan terbaik bagi setiap hamba-Nya.

“Manusia boleh merencanakan, tapi Tuhan yang paling tahu,” begitu inti pesan yang disampaikan Ge Pamungkas dalam percakapannya bersama Daniel Mananta. Kalimat sederhana itu justru menghantam hati banyak orang yang selama ini hidup di bawah tekanan ekonomi, target pekerjaan, tuntutan sosial, hingga ketakutan tentang masa depan.

Potongan video tersebut menjadi sangat emosional karena terasa dekat dengan realitas kehidupan masyarakat modern saat ini. Banyak orang terlihat baik-baik saja di luar, tetapi diam-diam sedang lelah di dalam dirinya sendiri. Ada yang bekerja dari pagi hingga larut malam demi keluarga, namun hatinya tetap gelisah. Ada yang terlihat tersenyum di media sosial, tetapi menangis saat malam datang karena hidup terasa terlalu berat dipikul sendirian.

Dalam pembahasannya, Ge juga menyinggung bagaimana manusia modern terlalu fokus pada ikhtiar, tetapi lupa kepada tawakal. Menurutnya, bekerja keras memang bagian dari kewajiban hidup, memiliki mimpi besar juga bukan kesalahan, namun manusia sering lupa bahwa ada titik di mana hati harus belajar berserah setelah seluruh usaha dilakukan.

“Manusia itu terlalu berikhtiar, tapi lupa tawakal,” ujar Ge dalam podcast tersebut. Kalimat itu langsung dipenuhi ribuan komentar dari warganet yang merasa tertampar karena selama ini hidup mereka dipenuhi ambisi, tetapi miskin ketenangan batin. Tidak sedikit yang mengaku terlalu keras terhadap dirinya sendiri sampai lupa melibatkan Allah dalam setiap rasa takut dan kegelisahan hidupnya.

Ge Pamungkas juga mengutip istilah “Ora et Labora” yang berarti bekerja dan berdoa. Pesan itu dinilai begitu dalam karena mengingatkan bahwa kehidupan bukan hanya tentang seberapa keras manusia mengejar dunia, tetapi juga tentang bagaimana manusia tetap menjaga hubungannya dengan Tuhan di tengah perjuangan hidup yang melelahkan.

Pesan tersebut terasa semakin menyentuh ketika dikaitkan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Ghafir ayat 60:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Yang artinya, “Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya, bahkan ketika manusia merasa paling hancur, paling gagal, dan paling kehilangan arah dalam hidup.

Banyak warganet menilai viralnya podcast tersebut bukan sekadar karena kata-katanya indah, melainkan karena isinya terasa nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebab pada kenyataannya, tidak semua manusia sedang baik-baik saja. Banyak yang terus tersenyum hanya karena tidak ingin terlihat lemah di hadapan dunia.

Ucapan paling menghujam dari percakapan itu muncul ketika Ge Pamungkas mengatakan bahwa Tuhan sebenarnya sedang menunggu kapan manusia benar-benar bertawakal. Kalimat itu membuat banyak orang terdiam. Sebab sering kali manusia merasa sudah berdoa, tetapi hatinya masih sibuk memaksa takdir mengikuti keinginannya sendiri.

Kini, di tengah kehidupan yang semakin keras dan melelahkan, potongan podcast tersebut justru menjadi pengingat yang menenangkan banyak hati. Bahwa hidup tidak selalu harus dipaksakan. Bahwa menangis dalam doa bukan tanda kelemahan. Dan bahwa ada Allah yang tidak pernah tidur, yang selalu mendengar doa-doa paling sunyi dari hamba-Nya.

Sebab pada akhirnya, manusia mungkin mampu menyusun ribuan rencana di atas bumi. Namun hanya doa, sujud, dan tawakal yang mampu mengetuk pintu langit. Ketika dunia terasa terlalu berat untuk dipikul sendirian, bisa jadi Allah hanya sedang menunggu satu hal sederhana: hamba-Nya kembali pulang, kembali bersujud, lalu percaya sepenuhnya kepada-Nya.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks