Mantv7.com | Tangerang — Langkah kaki Ahmad Hipni terasa berat saat menggandeng putrinya, Zahra, memasuki area Kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Tangerang. Di tempat inilah mereka harus menghadiri jadwal pertemuan penting guna menjalani sesi trauma healing bersama psikolog profesional yang telah ditunjuk resmi oleh dinas terkait.
Kehadiran mereka di kantor tersebut bukan sekadar memenuhi agenda formalitas birokrasi semata, melainkan sebuah ikhtiar nyata demi memulihkan kondisi psikologis Zahra. Sebagai seorang ayah yang mendampingi setiap detik penderitaan anaknya, Ahmad Hipni menyimpan rasa cemas yang mendalam terhadap masa depan buah hati tercintanya itu.
Trauma mendalam yang dialami Zahra membuat hari-harinya berubah drastis dibanding anak-anak seusianya yang lain. Ruang gerak dan keceriaan khas anak-anak perlahan meredup, tergantikan oleh rasa takut serta kewaspadaan berlebihan akibat kejadian buruk yang pernah menimpa dirinya beberapa waktu lalu.
Sebagai orang tua tunggal dalam menghadapi cobaan ini, Ahmad Hipni merasakan beban mental yang sangat berat setiap kali melihat putrinya terdiam termenung. Perasaan bersalah dan kekhawatiran bercampur aduk di dalam benaknya, memikirkan apakah luka batin tersebut dapat benar-benar sembuh total seperti sedia kala.
Sesi trauma healing yang dijalaninya hari ini merupakan salah satu tahap awal dari proses panjang yang harus dilalui oleh Zahra. Pendampingan dari psikolog sangat dibutuhkan guna membimbing sang anak melepaskan emosi tertahan serta rasa takut yang selama ini mengurung pikiran bawah sadarnya.
Meskipun penanganan medis dan psikologis ini memberikan secercah harapan, proses penyembuhan mental tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar, kesabaran ekstra, serta lingkungan yang benar-benar kondusif agar ketenangan jiwa Zahra dapat pulih sepenuhnya.
Keresahan yang dirasakan oleh Ahmad Hipni dan keluarganya mencerminkan realitas pahit yang sering dihadapi oleh para korban kekerasan atau insiden traumatik. Mereka tidak hanya harus berjuang mencari keadilan hukum, tetapi juga harus berjibaku memulihkan mental anak yang telanjur hancur oleh keadaan.
Di sisi lain, pihak DP3A Kabupaten Tangerang melalui para ahli psikologi berupaya memberikan pendekatan persuasif dan humanis selama sesi berlangsung. Hal ini dilakukan agar Zahra merasa aman, nyaman, dan tidak merasa dihakimi selama menceritakan atau memproses ulang pengalaman buruknya.
Perjalanan panjang pemulihan ini tentu masih menyisakan banyak PR besar bagi keluarga dalam mengembalikan mental juara sang anak. Dukungan moral dari lingkungan terdekat menjadi benteng pertahanan utama agar Zahra tidak merasa sendirian dalam menghadapi masa-masa sulit pasca-trauma tersebut.

Di tengah perjuangan berat ini, Buyung. E, seorang aktivis YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, turut memberikan suntikan semangat penuh bagi sang ayah. “Tetap kuat dan teruslah tegar mengawal langkah pemulihan Zahra, kami dari YLPK PERARI selalu ada di belakangmu untuk memastikan keadilan serta hak-hak anak tetap terlindungi,” tegas Buyung memberikan dukungan moril.
Ahmad Hipni bertekad akan terus mengawal setiap langkah pemulihan putrinya tanpa mengenal kata menyerah hingga batas kemampuan maksimalnya. Ia berharap tidak ada lagi anak-anak lain di luar sana yang harus merasakan penderitaan berat dan bayang-bayang ketakutan seperti dialami oleh Zahra, sambil berharap rangkaian sesi trauma healing hari ini menjadi titik balik positif yang mengembalikan senyum ceria sang buah hati.
(RED)











