BeritaGaya Hidup & BudayaKabupaten

Bukan Milik Kelompok, Ini Gerakan Balaraja: Tiga Tokoh Buka Silaturahmi, Rangkul Semua Elemen, Satukan Langkah Demi Pasar Segitiga Balaraja

81
×

Bukan Milik Kelompok, Ini Gerakan Balaraja: Tiga Tokoh Buka Silaturahmi, Rangkul Semua Elemen, Satukan Langkah Demi Pasar Segitiga Balaraja

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Tangerang — Gagasan menghidupkan kembali kawasan Pasar Segitiga Balaraja atau Eks Terminal Balaraja mulai bergerak ke tahap berikutnya. Setelah sebelumnya muncul gagasan penataan kawasan dan pengembangan sentra kuliner UMKM, kini perhatian para penggagas diarahkan pada hal yang lebih mendasar: menyatukan visi, menyamakan niat dan membangun kebersamaan. Letkol Inf. Dodi Fahruroji, M.M., Ucu Samsu Komar alias Bacung, dan Ahmad Saefi Sobur, S.E., M.Si. menyadari bahwa menghidupkan sebuah kawasan tidak cukup hanya dengan konsep. Dibutuhkan komunikasi dengan banyak pihak, mendengar pandangan masyarakat dan mengajak orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap Balaraja untuk duduk bersama. Karena itu, ketiganya memilih bergerak melalui jalur masing-masing dengan satu tujuan yang sama.

Bacung mulai mengambil langkah dengan membangun silaturahmi kepada sejumlah tokoh organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan di Balaraja. Komunikasi tersebut dilakukan untuk membuka ruang kebersamaan sekaligus mencari kemungkinan jalan bersama. Menurut semangat yang dibangun, perbedaan organisasi maupun komunitas tidak seharusnya menjadi sekat ketika yang diperjuangkan adalah kepentingan masyarakat Balaraja.

Bagi Bacung, setiap organisasi memiliki pengalaman, jaringan dan kemampuan yang berbeda. Semua potensi itu justru dapat menjadi kekuatan apabila dipertemukan dalam suasana yang baik. Karena itu, langkah yang dilakukan bukan untuk mengumpulkan orang dalam satu kelompok, melainkan mengajak berbagai unsur agar dapat melihat persoalan Balaraja dari kepentingan yang sama: apa yang bisa dilakukan bersama untuk kemajuan daerah.

Di jalur lain, Ahmad Saefi Sobur juga mulai menghubungi sejumlah tokoh senior, tokoh kepemudaan yang memiliki rekam jejak integritas dan prestasi, serta berbagai stakeholder yang dinilai kredibel dan berpengalaman. Ahmad tidak hanya mencari dukungan, tetapi juga membuka ruang untuk mendengar pandangan, kritik dan masukan sebelum gagasan tersebut melangkah lebih jauh.

Langkah tersebut dinilai penting karena penataan kawasan publik dan pengembangan ekonomi masyarakat bukan persoalan sederhana. Ada aspek sosial, ekonomi, tata ruang, legalitas, keamanan, lingkungan, pengelolaan serta kepentingan pedagang yang harus dipertimbangkan. Karena itu, semakin banyak orang berpengalaman yang diajak berbicara, semakin banyak pula sudut pandang yang dapat digunakan untuk menyempurnakan gagasan.

Sementara itu, Letkol Inf. Dodi Fahruroji, M.M. memilih membangun komunikasi dengan para sepuh, ustaz, tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh dari berbagai desa di Balaraja. Bagi Dodi, perubahan tidak hanya membutuhkan konsep pembangunan, tetapi juga harus memahami sejarah, karakter dan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.

Para sepuh dan tokoh agama dipandang memiliki pengalaman panjang serta memahami perjalanan Balaraja. Karena itu, silaturahmi tersebut menjadi bagian dari upaya mendengar nasihat, mendapatkan masukan dan mencari jalan yang paling baik. Bukan untuk memutuskan sesuatu secara sepihak, melainkan untuk memastikan gagasan yang dibawa tetap memiliki pijakan sosial dan tidak terlepas dari kepentingan masyarakat.

Tiga jalur tersebut akhirnya bertemu pada satu tujuan. Bacung merangkul unsur ormas dan pemuda, Ahmad membangun komunikasi dengan tokoh senior, kepemudaan, stakeholder dan orang-orang berpengalaman, sementara Dodi menjangkau para sepuh, tokoh agama dan tokoh masyarakat. Jalurnya berbeda, tetapi niatnya sama: mengumpulkan energi Balaraja agar tidak berjalan sendiri-sendiri.

Di tengah proses tersebut, ada satu pesan yang dinilai penting untuk dijaga bersama: jangan sampai gerakan yang sedang dibangun tersusupi bisikan negatif, prasangka atau suudzon. Setiap langkah yang baik memang wajar dipertanyakan, tetapi pertanyaan seharusnya menjadi jalan untuk mencari kejelasan, bukan berubah menjadi prasangka sebelum mengetahui fakta.

Aktivis YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, Buyung E., menyampaikan dukungan penuh dari jajaran pengurus YLPK PERARI Kabupaten Tangerang serta anggota Media Mantv7.com terhadap upaya menghidupkan kembali Pasar Segitiga Balaraja. “Kami mendukung penuh niat baik ini. Ini bukan tentang siapa yang paling depan atau milik kelompok tertentu, tetapi tentang Balaraja dan manfaatnya bagi masyarakat. Mari kita jaga kebersamaan, jangan mudah terpengaruh prasangka atau suudzon, dan bersama-sama mengawal gagasan ini agar berjalan baik, terbuka, sesuai aturan dan benar-benar memberikan manfaat bagi warga,” ujar Buyung.

Gerakan ini bukan untuk Dodi, bukan untuk Bacung, bukan untuk Ahmad, bukan pula untuk satu organisasi atau kelompok tertentu. Yang sedang dibicarakan adalah Balaraja. Jika suatu hari gagasan tersebut berhasil diwujudkan, manfaat yang diharapkan bukan untuk satu nama, melainkan untuk pedagang, pelaku UMKM, masyarakat, pemuda dan lingkungan Balaraja secara luas.

Karena itu, apabila ada kekhawatiran, sampaikan secara terbuka. Jika ada kekurangan, berikan kritik. Jika ada aturan yang harus dipenuhi, ingatkan. Tetapi jangan sampai perbedaan pandangan membuat orang-orang yang memiliki niat baik berhenti bergerak. Kita boleh berbeda pendapat tanpa saling mencurigai, boleh kritis tanpa harus berprasangka, dan boleh bertanya tanpa mematikan sebuah gagasan.

Para penggagas juga memahami bahwa perubahan tidak boleh dimaknai sebagai menggantikan pihak yang sudah ada. Pedagang lama, pelaku UMKM, masyarakat, organisasi, pemerintah dan stakeholder lainnya tetap memiliki tempat dalam proses pembicaraan. Jika kawasan tersebut nantinya ditata, kepentingan mereka harus menjadi bagian dari pembahasan agar perubahan dapat berlangsung secara manusiawi, terbuka dan sesuai aturan.

Karena itu, pemerintah dan stakeholder yang memiliki kewenangan tetap menjadi bagian penting. Status kawasan, tata ruang, perizinan, lingkungan, keamanan, pengelolaan dan berbagai aspek lainnya harus dikaji melalui mekanisme yang benar. Gerakan masyarakat ini bukan untuk mengambil alih kewenangan pemerintah, melainkan menjadi energi positif dan gagasan yang dapat dibawa ke ruang pembahasan resmi.

Apa yang dilakukan ketiga tokoh tersebut saat ini mungkin belum menghasilkan perubahan fisik yang besar. Namun, satu hal sudah mulai bergerak: komunikasi. Tokoh-tokoh mulai dihubungi, pandangan mulai dikumpulkan, silaturahmi mulai dibangun dan berbagai kemungkinan mulai dibicarakan. Dari sanalah sebuah gerakan bersama dapat menemukan bentuknya.

Pada akhirnya, Pasar Segitiga Balaraja/Eks Terminal Balaraja bukan milik satu tokoh, bukan milik satu organisasi dan bukan milik satu kelompok. Kawasan itu merupakan bagian dari kehidupan Balaraja. Karena itu, jika ingin menghidupkannya kembali, semangat yang dibangun juga harus semangat kebersamaan. Bukan siapa yang paling depan atau siapa yang paling dikenal, tetapi siapa yang bersedia membuka pintu, mengulurkan tangan dan berjalan bersama.

Balaraja tidak kekurangan orang hebat. Yang dibutuhkan sekarang adalah bagaimana orang-orang hebat itu dapat duduk dalam satu meja, menyatukan pikiran dan mengesampingkan kepentingan pribadi maupun kelompok.

Dari Balaraja, untuk Balaraja. Dari niat baik, menjadi gerakan bersama. Dari silaturahmi, semoga lahir perubahan.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks