Mantv7.com | Film Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? bukan sekadar drama keluarga yang menyentuh hati. Film produksi Falcon Pictures yang dijadwalkan tayang 24 September 2026 ini bertanya: mengapa kasih sayang terasa mahal setelah kehilangan datang? Adaptasi Wedding Dress (2010) ini mengajak penonton bercermin sebelum penyesalan berbicara.
Kisahnya mengikuti ibu tunggal yang bekerja sebagai perancang gaun pengantin, membesarkan Rere. Saat mengetahui dirinya menghadapi penyakit serius, ia tidak menyerah. Ia justru menyiapkan putrinya agar mandiri. Dari sini terlihat bahwa cinta ibu bekerja dalam diam: memikirkan masa depan anak ketika dirinya menghadapi batas waktu.
Sang ibu menyimpan kondisinya dari Rere demi melindungi putrinya dari kecemasan. Waktu yang tersisa digunakan untuk menciptakan kenangan sekaligus bekal hidup. Pesannya: pendidikan keluarga tidak selalu melalui nasihat panjang, tetapi melalui teladan, keberanian, dan kesediaan mengajarkan anak agar mampu berdiri sendiri.
Gaun pengantin yang dibuat sang ibu menjadi simbol cinta dan harapan. Setiap jahitan seolah menyimpan pesan tentang masa depan Rere yang mungkin tak sempat disaksikannya. Dari sana kita belajar, bahwa warisan terbaik orang tua tidak selalu harta, melainkan nilai, keterampilan, keberanian, dan keyakinan menjalani hidup.
Ketika Rere memahami kondisi ibunya, pertanyaan “Ibu, bagaimana aku tanpamu?” menjadi suara batin banyak anak. Film ini bukan sekadar hiburan, tetapi cermin: apakah perhatian kepada ibu sudah diberikan hari ini, atau terus ditunda dengan kata “nanti” yang tidak pasti?
Yuli Murtia, S.H., Kabid Literasi Hukum dan Pendidikan YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, menilai pesan tersebut relevan untuk membangun kesadaran anak agar tidak menunda perhatian kepada orang tua. Kasih sayang tak membutuhkan tindakan besar. Menanyakan kabar, mendengarkan, menemani, menelepon, pulang, atau memeluk ibu adalah penghargaan yang tidak diukur dengan materi.

“Jangan sampai anak terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa kepada orang yang dahulu berjuang agar dirinya bisa mengenal dunia,” ujar Yuli. Ia mengingatkan, jangan menunggu ibu sakit, menua, atau pergi untuk menyadari nilainya. Ini bukan larangan mengejar sukses, tetapi ajakan agar keberhasilan tidak membuat lupa kepada tangan yang menuntun.
Pernyataan itu menantang anggapan bahwa uang sudah cukup untuk disebut berbakti. Materi memang membantu kebutuhan, tetapi tidak menggantikan kehadiran. Ada rindu yang tidak terobati oleh transfer dan ada ibu yang mungkin hanya ingin anaknya duduk sebentar untuk mendengarkan cerita. Perhatian sederhana sering menjadi hadiah jujur.
Kita sering memberi waktu terbaik kepada teman, pasangan, pekerjaan, orang lain, tetapi kepada ibu justru menyisakan tenaga terakhir. Telepon dianggap mengganggu, nasihat disebut cerewet. Pola itu layak dikoreksi, sebab keluarga adalah ruang pertama manusia belajar menghormati, berkomunikasi, bertanggung jawab, dan menghargai pengorbanan.
Dalam kehidupan sosial, penghormatan kepada orang tua sejalan dengan nilai hukum dan norma yang menjaga martabat manusia serta keluarga. Bahwa nilai penghormatan harus diterjemahkan menjadi perilaku sehari-hari, sebab norma kehilangan makna apabila kesopanan hanya menjadi kata sementara orang terdekat diabaikan.
Kalimat “nanti saya pulang” atau “nanti saya telepon” terdengar ringan, tetapi waktu tidak pernah berjanji menunggu. Pekerjaan dapat dilanjutkan, tetapi kesempatan berbincang dengan ibu terus berkurang. Kritik film ini sederhana: jangan seolah waktu bersama ibu tidak akan habis, karena penyesalan datang ketika kesempatan tertutup.
Jika Bu masih bisa dihubungi, hubungilah. Jika dapat didatangi, datanglah. Jika masih bisa dipeluk, peluklah. Tak perlu menunggu kaya, sukses, atau hadiah mahal. Bagi ibu, kehadiran anak jauh lebih berarti. Sebelum bertanya “Bagaimana aku tanpamu?”, tanyakan lebih dulu, “Sudahkah aku menghargai ibu ketika ia masih ada?”
Pada akhirnya, Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? adalah undangan memperbaiki cara kita mencintai selagi kesempatan terbuka. Kejar cita-cita dan bangun masa depan, tetapi jangan lupa menoleh kepada orang yang mendorong langkahmu. Sebab cinta ibu tak selalu meminta balasan besar kadang ia hanya ingin anaknya pulang, duduk di sampingnya, tersenyum, lalu berkata: “Terima kasih, Bu.”
(RED)











