Berita

Sembilan Hari PRB Balaraja #2 Berakhir: Dari Riuh Panggung Menuju Keteduhan Maulid, Haul Kasepuhan, Zikir, Selawat, dan Kenangan Bersama

48
×

Sembilan Hari PRB Balaraja #2 Berakhir: Dari Riuh Panggung Menuju Keteduhan Maulid, Haul Kasepuhan, Zikir, Selawat, dan Kenangan Bersama

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | BALARAJA — Setelah sembilan hari menghadirkan warna-warni kehidupan masyarakat, Pekan Raya Balaraja (PRB) #2 akhirnya tiba di garis akhir. Minggu, 30 Agustus 2026, menjadi hari kesembilan sekaligus malam penutupan rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak 22 Agustus 2026 di Alun-Alun Balaraja, Kabupaten Tangerang. Namun, ada yang menarik dari cara PRB #2 mengakhiri perjalanannya. Ketika panggung hiburan biasanya menjadi penutup sebuah pesta, PRB justru memilih Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul Kasepuhan Balaraja, melalui Balaraja Berzikir dan Bershalawat mulai pukul 19.30 WIB.

Pilihan tersebut membuat malam terakhir terasa seperti sebuah perjalanan yang akhirnya menemukan maknanya. Selama beberapa hari, masyarakat datang dengan semangat yang berbeda-beda: ada yang ingin berolahraga, menikmati musik, berbelanja di UMKM, menyaksikan budaya, mendampingi anak mengikuti lomba, hingga sekadar bertemu kawan lama. Malam ini, seluruh keramaian itu diarahkan menuju suasana yang lebih teduh. Masyarakat diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk, mengingat keteladanan Rasulullah SAW, sekaligus mengenang para kasepuhan yang telah meninggalkan jejak dalam perjalanan Balaraja.

Perjalanan itu memang dimulai dengan semangat yang meriah. Pada hari pertama, Sabtu, 22 Agustus 2026, masyarakat disambut Fun Walk, Senam Bersama, dan Karnaval Budaya Nusantara. Sementara itu, Bazaar, UMKM, Lembur Balaraja, dan Pameran mulai menghidupkan kawasan sejak pagi. Malamnya, panggung musik menghadirkan Milqi’s Band, Family Band, Reminders, Gally & Friends hingga Jamred—Guest Star Tribute to Jamrud. Sejak awal, PRB memperlihatkan bahwa sebuah pesta rakyat dapat menjadi ruang bertemunya hiburan, kreativitas, budaya, dan aktivitas masyarakat dalam satu tempat.

Hari kedua hingga keempat kemudian diisi beragam penampilan komunitas dan musisi. KPJ, MAN 2 Tangerang, Esek Udug, Jude’s, Jam’s Brothers, Bobrock, One Good Day, The Kress, Ruma, Efelde, Koboi Ngungsi, Doyong & Friends, MD Metal Project, MD Rock Project hingga Ten To Eleven bergantian mengisi panggung. Di sisi lain, aktivitas UMKM, bazaar, dan pameran tetap berjalan. Keramaian pun tidak berhenti pada tepuk tangan penonton, sebab ada pedagang yang berjualan, komunitas yang memperkenalkan karya, dan masyarakat yang saling berinteraksi.

Memasuki hari kelima, Rabu, 26 Agustus 2026, PRB kembali menunjukkan sisi lain melalui Sarasehan Pelestarian Budaya pada sore hari sebelum malamnya diramaikan Dangdut Kobra Entertainment. Kemudian pada hari keenam, Kamis, 27 Agustus 2026, suasana berubah. Tidak ada live music karena malam Jumat diisi kegiatan budaya Yasinan. Anak-anak dan pelajar justru mendapatkan ruang untuk menunjukkan kemampuan melalui lomba mewarnai, menggambar, lukis kaligrafi, adzan, dan baca rawi. Dari sinilah terlihat bahwa festival tidak harus selalu berbicara tentang hiburan; ia juga dapat menjadi tempat belajar dan memberi keberanian kepada generasi muda untuk tampil.

Kemeriahan musik kembali menyapa masyarakat pada hari ketujuh, Jumat, 28 Agustus 2026, dengan sejumlah penampil hingga G7—Guest Star Tribute Sheila on 7. Sehari berikutnya, Sabtu, 29 Agustus 2026, PRB memasuki hari kedelapan dengan agenda yang lebih lengkap. Sejak pagi hingga sore digelar Bakti Sosial berupa Terapi Qur’ani dan Donor Darah, kemudian panggung musik kembali diisi Panitia Band, Cakrawinata, Sultan Fraya, Siluet—Tribute Dewa, dan Owl Jams. Rangkaian ini memperlihatkan bahwa kemeriahan dapat berjalan berdampingan dengan kepedulian.

Dari sembilan hari tersebut, PRB #2 seperti menyusun satu cerita dalam banyak bab. Olahraga mengajak masyarakat bergerak, budaya mengajak mengenal akar, UMKM mempertemukan penjual dan pembeli, perlombaan menumbuhkan kreativitas, musik menciptakan kegembiraan, sementara bakti sosial membuka ruang kepedulian. Semuanya bertemu di satu ruang publik. Nilai sebuah kegiatan masyarakat tidak semata-mata dapat diukur dari ramainya pengunjung, tetapi juga dari manfaat, pengalaman, dan hubungan sosial yang tercipta di dalamnya.

Kini cerita itu sampai pada halaman terakhir. Minggu malam, 30 Agustus 2026, pukul 19.30 WIB, Alun-Alun Balaraja akan menjadi tempat berlangsungnya Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul Kasepuhan Balaraja. Acara tersebut menghadirkan Dr. H. Soma Atmaja, M.Si., Sekda Kabupaten Tangerang, serta KH. Pahaduddin Haikal, S.Pd.I. sebagai penceramah. Lantunan Al-Qur’an akan dibawakan Ust. Muhammad Sabtil Fajri, sementara Hadroh Permata Nada turut mengisi suasana dan Ust. Anzos bertugas sebagai MC.

Di balik acara tersebut terdapat unsur Balai Adat Balaraja dan panitia yang ikut menggerakkan seluruh rangkaian. Drs. H. Kosasih, M.Si. tercatat sebagai Penasehat Balai Adat Balaraja, Dr. Komaruzaman, M.Ed. sebagai Ketua Umum, Heri Djauhari, S.H. sebagai Sekretaris Jenderal, serta Gilang Sumiarsa, S.IP. sebagai Ketua Pelaksana Pekan Raya Balaraja. Kehadiran berbagai unsur itu mengingatkan bahwa kegiatan sebesar PRB tidak lahir dari kerja satu orang, melainkan dari gagasan, koordinasi, dan kemauan untuk menciptakan ruang bersama bagi masyarakat.

Menariknya, penutupan dengan Maulid dan Haul Kasepuhan membawa pesan yang lebih dalam tentang cara sebuah daerah merawat identitasnya. Maulid menjadi kesempatan untuk mengenang keteladanan Nabi Muhammad SAW, sedangkan Haul Kasepuhan menjadi ruang untuk menghormati jejak generasi terdahulu. Mengenang masa lalu bukan berarti berjalan mundur; justru dari sanalah masyarakat dapat mengambil nilai-nilai baik untuk dibawa ke kehidupan hari ini dan diteruskan kepada generasi berikutnya.

Bagi masyarakat Balaraja dan sekitarnya, malam terakhir PRB #2 karena itu bukan sekadar agenda untuk dicatat di kalender. Ini adalah kesempatan untuk hadir bersama keluarga, bertemu tetangga, mengenalkan tradisi kepada anak-anak, mendengarkan tausiyah, menikmati lantunan qori dan hadroh, lalu menutup sembilan hari perjalanan dengan zikir serta selawat. Jika selama beberapa hari sebelumnya masyarakat memenuhi Alun-Alun dengan tawa dan sorak, malam ini tempat yang sama diharapkan dipenuhi suasana yang lebih menenangkan hati.

Sembilan hari PRB #2 pada akhirnya meninggalkan gambaran bahwa ruang publik bisa memiliki banyak wajah. Pagi dapat menjadi tempat berolahraga, siang menjadi ruang UMKM dan kreativitas, sore menjadi panggung budaya, malam menjadi tempat menikmati musik, dan pada waktu tertentu berubah menjadi ruang untuk berbagi, berdoa, dan berselawat. Itulah yang membuat sebuah pesta rakyat terasa lebih dekat dengan kehidupan warganya: bukan hanya menghadirkan tontonan, tetapi memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menjadi bagian dari cerita.

Dan ketika malam ini lantunan selawat mulai terdengar di Alun-Alun Balaraja, mungkin di situlah PRB #2 menemukan penutup terbaiknya. Sembilan hari telah membawa masyarakat berjalan dari keriuhan menuju keteduhan; dari panggung musik menuju majelis; dari sekadar datang untuk melihat, menjadi pulang membawa kesan. Sebab pesta yang paling indah bukan selalu yang paling bising, melainkan yang setelah selesai masih menyisakan senyum, kenangan, dan keinginan untuk bertemu kembali.

PRB #2 boleh berakhir malam ini, tetapi semangat Balaraja untuk berkumpul, berkarya, berbagi, dan menjaga tradisi semoga tidak ikut berakhir bersama padamnya lampu panggung.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks