AgamaBerita

DANA UMAT JANGAN HANYA MENJADI ANGKA: SAAT MASJID BELAJAR DARI JOGOKARIYAN DAN SEJUTA PEMUDA MENGHIDUPKAN KEMANFAATAN

109
×

DANA UMAT JANGAN HANYA MENJADI ANGKA: SAAT MASJID BELAJAR DARI JOGOKARIYAN DAN SEJUTA PEMUDA MENGHIDUPKAN KEMANFAATAN

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | TANGERANG — Masjid boleh semakin megah. Kubah boleh menjulang, lantai semakin nyaman, AC semakin sejuk, fasilitas semakin lengkap. Namun ada pertanyaan yang justru lebih penting untuk direnungkan: ketika bangunan semakin makmur, apakah masyarakat di sekitarnya juga ikut merasakan kemakmuran?

Pertanyaan tersebut bukan untuk mempersoalkan pembangunan rumah ibadah. Justru sebaliknya, ini adalah ajakan untuk melihat makna memakmurkan masjid secara lebih luas. Sebab masjid bukan hanya bangunan yang digunakan ketika azan berkumandang, tetapi juga memiliki potensi besar menjadi ruang pelayanan, pendidikan, kepedulian, pemberdayaan dan penguatan kehidupan sosial masyarakat.

Di titik inilah gagasan “saldo kas nol” yang dikenal dari Masjid Jogokariyan Yogyakarta menarik untuk direnungkan. Filosofi tersebut bukan berarti masjid tidak boleh mempunyai dana operasional atau cadangan. Pesan utamanya adalah bagaimana dana yang dipercayakan umat tidak sekadar menjadi angka yang terus bertambah dan mengendap, tetapi dipikirkan agar dapat kembali menjadi manfaat melalui pelayanan dan pemberdayaan sesuai kebutuhan masyarakat.

Sebab uang umat bukan sekadar nominal. Di balik setiap rupiah yang masuk, ada kepercayaan. Ada orang yang menyisihkan sebagian rezekinya dengan harapan dana tersebut menjadi amal dan menghadirkan kebaikan. Maka pertanyaan pentingnya bukan hanya berapa besar saldo yang tersimpan, melainkan sejauh mana manfaatnya telah bergerak.

Coba lihat lingkungan sekitar. Bisa saja sebuah masjid memiliki bangunan yang sangat nyaman, sementara beberapa ratus meter dari sana terdapat keluarga yang sedang kesulitan membeli kebutuhan pokok, anak yang membutuhkan biaya pendidikan, pedagang kecil yang kesulitan mengembangkan usaha, pemuda yang membutuhkan ruang berkegiatan, atau musafir yang membutuhkan tempat singgah. Di situlah ukuran kemanfaatan mulai diuji: apakah persoalan manusia di sekitar masjid ikut menjadi perhatian?

Almarhum KH Muhammad Jazir, yang dikenal melalui pengembangan Masjid Jogokariyan, pernah melontarkan kritik keras terhadap kecenderungan menjadikan pembangunan fisik sebagai ukuran kemajuan masjid. Kritik tersebut patut dibaca sebagai bahan refleksi, bukan sebagai penolakan terhadap masjid yang bagus. Bangunan penting, tetapi manusia yang berada di sekitar bangunan jauh lebih penting untuk diperhatikan.

Sejarah masjid pada masa Rasulullah SAW juga memperlihatkan fungsi yang luas. Masjid menjadi ruang berkumpul, belajar, bermusyawarah, memperkuat ukhuwah dan menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Karena itu, konsep memakmurkan masjid tidak selayaknya berhenti pada memperindah bangunan. Masjid yang hidup seharusnya mampu menghidupkan nilai kebaikan di lingkungan sekitarnya.

Al-Qur’an melalui QS At-Taubah ayat 18 mengaitkan orang-orang yang memakmurkan masjid dengan keimanan, salat dan zakat. Pesan tersebut dapat menjadi bahan perenungan bahwa kemakmuran rumah ibadah memiliki dimensi spiritual sekaligus kepedulian terhadap sesama. Jangan sampai masjid terlihat semakin makmur dari luar, tetapi masyarakat di sekitarnya tidak mengalami perubahan manfaat yang berarti.

Contoh lain yang dapat menjadi bahan pembelajaran adalah Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi. Pendekatan pelayanan kepada jamaah dan musafir serta keterlibatan anak muda menunjukkan bahwa masjid dapat menjadi ruang aktivitas yang lebih luas. Pemuda bukan hanya datang untuk salat, tetapi dapat ikut melayani, menyambut musafir, menyiapkan kebutuhan jamaah dan menghidupkan kegiatan sosial. Masjid akhirnya bukan hanya tempat orang datang, tetapi tempat orang mengambil peran.

Yuli Murtia, S.H., Kabid Literasi Hukum dan Pendidikan YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, mengingatkan bahwa pengurus masjid tidak harus menyalin seluruh konsep Jogokariyan maupun Sejuta Pemuda.

“Kita yang dipercaya menjadi pengurus masjid sebenarnya tinggal berkaca. Tidak perlu merasa harus meniru persis, tetapi kita bisa belajar dari Masjid Jogokariyan dan Masjid Sejuta Pemuda. Masjid boleh nyaman dan bagus, tetapi jangan lupa melihat apakah masyarakat di sekitarnya juga sudah merasakan manfaatnya. Amanahnya bukan hanya menjaga bangunan, tetapi juga menjaga kepercayaan dan kemaslahatan umat.”

Kemaslahatan tersebut juga tidak perlu dimaknai sempit hanya bagi muslim dan muslimat yang menjadi jamaah. Masjid berdiri di tengah masyarakat, bukan di ruang kosong. Ada tetangga, pedagang, pekerja, anak sekolah, lansia, pemuda, musafir dan warga dengan latar belakang berbeda. Sikap peduli, pelayanan sosial dan hubungan bertetangga yang baik dapat menjadi bagian dari wajah kemanfaatan masjid tanpa mengurangi fungsi utamanya sebagai tempat ibadah.

Karena itu, kritik yang layak dikedepankan bukan “mengapa masjid memiliki saldo?”, melainkan “untuk apa amanah dana itu dikelola, bagaimana pertanggungjawabannya, dan seberapa luas manfaatnya?” Saldo besar tidak otomatis salah. Saldo kecil juga tidak otomatis berarti pengelolaannya baik. Yang harus dilihat adalah kebutuhan operasional, perencanaan, transparansi, akuntabilitas dan manfaat nyata yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dari sini, gagasan “saldo kas nol” sebaiknya tidak berubah menjadi perlombaan menghabiskan uang. Angka nol bukan tujuan. Perputaran manfaatlah yang menjadi pesan. Dana harus dikelola secara hati-hati, sesuai kebutuhan, melalui keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga uang yang dititipkan masyarakat tidak kehilangan arah.

Pada akhirnya, masjid tidak harus menjadi Jogokariyan dan tidak harus menjadi Sejuta Pemuda. Setiap lingkungan mempunyai persoalan dan kemampuan yang berbeda. Tetapi semangatnya dapat dipelajari: jangan hanya membangun tempat manusia bersujud, tetapi ikut membangun kehidupan manusia. Jangan hanya menjaga bangunan tetap berdiri, tetapi pastikan nilai kepedulian juga tetap hidup.

Sebab kemakmuran masjid bukan hanya ketika kubahnya semakin tinggi, bangunannya semakin indah atau saldonya semakin besar. Kemakmuran yang lebih dalam adalah ketika keberadaannya membuat masyarakat sekitar merasa lebih terbantu, lebih berdaya, lebih terlayani dan memiliki harapan.

Dana umat jangan berhenti menjadi angka. Bangunan jangan berhenti menjadi simbol. Masjid jangan berhenti menjadi tempat berkumpul saat ibadah. Jadikan amanah itu bergerak menjadi ilmu, pelayanan, kepedulian, pemberdayaan dan kemaslahatan.

Karena ketika masyarakat ikut merasakan manfaatnya, saat itulah masjid bukan hanya terlihat makmur tetapi benar-benar ikut memakmurkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks