Berita

Bukan Tentang Siapa yang Paling Benar, Tetapi Siapa yang Berani Mengakui Kekurangan dan Memperbaiki Diri Setiap Hari

49
×

Bukan Tentang Siapa yang Paling Benar, Tetapi Siapa yang Berani Mengakui Kekurangan dan Memperbaiki Diri Setiap Hari

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Jika ingin mengetahui seberapa bersih hati kita, mungkin jangan hanya menghitung kesalahan yang terlihat. Cobalah menghitung berapa kali kita memandang rendah orang lain, merasa lebih pintar, lebih pantas, lebih bersih, atau lebih berhak dihormati. Sebab, ada kesalahan yang tidak terdengar oleh telinga, tetapi diam-diam tumbuh menjadi kesombongan di dalam hati.

Kita sering merasa telah menjadi orang baik karena tidak mencaci, tidak menyakiti secara terang-terangan, dan berusaha menjaga perilaku di hadapan orang lain. Namun, kebaikan yang terlihat belum tentu menggambarkan seluruh isi hati. Bisa saja lisan kita sopan, tetapi pikiran kita merendahkan. Bisa saja tangan kita tidak menyakiti, tetapi cara pandang kita membuat orang lain terasa tidak berarti.

Memandang rendah orang lain juga tidak selalu hadir dalam bentuk hinaan. Ia dapat muncul melalui senyum yang meremehkan, keengganan mendengar pendapat orang lain, merasa paling tahu, atau menganggap seseorang tidak layak dihargai hanya karena status sosial, pendidikan, pekerjaan, ekonomi, penampilan, maupun kegagalannya. Kesombongan terkadang tidak berbicara keras; ia justru bersembunyi di balik sikap yang terlihat biasa.

Yang perlu kita waspadai adalah ketika perasaan lebih tinggi mulai dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Kita menyebutnya standar, selera, pengalaman, bahkan “hanya fakta”. Padahal, sebelum memberikan penilaian kepada orang lain, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sedang menilai sebuah perbuatan, atau sedang mencari alasan agar diri kita merasa lebih unggul?

Yuli Murtia, S.H., Kabid Literasi Hukum dan Pendidikan YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, mengingatkan bahwa pendidikan dan literasi tidak seharusnya hanya membuat seseorang semakin banyak mengetahui sesuatu, tetapi juga semakin mampu mengenali kekurangan dirinya sendiri. “Semakin banyak kita belajar, seharusnya semakin sadar bahwa kita juga masih memiliki kekurangan. Pengetahuan bukan alasan untuk merendahkan orang lain, melainkan bekal untuk memperbaiki diri dan memberi manfaat kepada sesama,” pesannya.

Menurutnya, kemampuan membedakan benar dan salah tetap diperlukan dalam kehidupan. Namun, penilaian terhadap suatu perbuatan sebaiknya tidak berubah menjadi perasaan bahwa diri sendiri lebih suci atau lebih tinggi sebagai manusia. “Kita boleh mengkritik perbuatan yang salah, tetapi jangan sampai kritik membuat kita kehilangan rasa hormat terhadap manusia. Menolak kesalahan tidak berarti harus merendahkan orangnya,” ujar Yuli dalam pesan moralnya.

Di sinilah kita perlu belajar melakukan kritik kepada diri sendiri. Sebelum mempertanyakan mengapa orang lain gagal, mungkin kita perlu mengingat berapa kali kita sendiri pernah gagal. Sebelum menertawakan kesalahan orang lain, kita perlu mengingat kesalahan yang pernah kita lakukan. Dan sebelum merasa paling benar, kita perlu menyediakan ruang untuk kemungkinan bahwa diri kita juga bisa keliru.

Ironisnya, kita sering meminta orang lain memahami proses perubahan dalam diri kita, tetapi tidak selalu memberikan kesempatan yang sama kepada orang lain. Kita ingin kesalahan kita disebut sebagai pengalaman, tetapi kesalahan orang lain terkadang langsung dijadikan alasan untuk merendahkan. Kita ingin diberi kesempatan ketika jatuh, tetapi kadang lupa memberikan kesempatan kepada orang lain untuk bangkit.

Karena itu, kebersihan hati tidak cukup diukur dari seberapa sering kita terlihat baik di hadapan banyak orang. Salah satu cermin yang lebih jujur adalah bagaimana kita memperlakukan orang yang tidak mempunyai jabatan, kekuasaan, harta, pendidikan tinggi, popularitas, ataupun sesuatu yang bisa menguntungkan kita. Di hadapan orang-orang seperti itulah karakter kita sering terlihat tanpa banyak hiasan.

Yuli juga mengajak masyarakat menjadikan perilaku sehari-hari sebagai bahan evaluasi pribadi. “Jangan hanya bertanya apa yang salah dari orang lain. Tanyakan juga apa yang salah dari cara kita melihatnya. Karena terkadang yang perlu diperbaiki bukan keadaan orang lain, melainkan sudut pandang kita sendiri,” tuturnya. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter tidak berhenti pada kemampuan berbicara tentang kebaikan, tetapi harus terlihat dalam cara memperlakukan sesama.

Pada akhirnya, manusia memang perlu menilai. Kita harus mampu membedakan perilaku yang merugikan dan yang bermanfaat, memilih lingkungan yang sehat, serta menjaga diri dari tindakan yang dapat merusak. Namun, kemampuan menilai tidak boleh menjadi tiket untuk merasa paling benar. Ada batas yang harus dijaga antara ketegasan terhadap perbuatan dan kesombongan terhadap manusia.

Maka, mari menjadikan setiap tindakan sebagai tolok ukur diri. Apa yang kita lakukan kemarin menjadi cermin, apa yang kita lakukan hari ini menjadi ukuran, sedangkan apa yang kita pilih untuk lakukan besok menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri. Tidak ada manusia yang sempurna, tetapi setiap manusia memiliki kesempatan untuk menjadi lebih sadar, lebih rendah hati, dan lebih bermanfaat.

Sebab pada akhirnya, kritik paling penting bukan selalu kritik yang kita arahkan kepada orang lain, melainkan kritik yang berani kita arahkan kepada diri sendiri. Sebelum meminta masyarakat berubah, sebelum menuntut orang lain beradab, sebelum menilai kebersihan hati seseorang, mari bertanya kepada diri masing-masing: sudahkah cara kita berbicara, berpikir, menilai, dan memperlakukan sesama mencerminkan manusia yang ingin kita lihat dalam kehidupan?

Jika belum, mungkin di situlah perubahan harus dimulai dari diri sendiri, untuk menjadi manusia yang lebih baik dan memberi kemaslahatan bagi sesama.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks