Mantv7.com | Fenomena pertemanan yang terlihat akrab di depan, tetapi berbeda ketika berada di belakang, menjadi gambaran yang kerap dikeluhkan dalam kehidupan sosial saat ini. Di depan bisa saling tertawa, memuji dan mengaku sebagai sahabat atau saudara, tetapi ketika muncul kepentingan, persaingan, iri hati atau kesalahpahaman, hubungan dapat berubah menjadi permusuhan.
Persahabatan seharusnya menjadi tempat menjaga aib, bukan menjadikannya senjata. Rahasia yang dahulu dipercayakan semestinya tetap dijaga meskipun hubungan tidak lagi sedekat sebelumnya. Kenyataan yang sering terlihat adalah di depan merangkul, di belakang memukul; di depan memuji, di belakang mencaci; dan di depan mengaku saudara, tetapi ketika kepentingan berbeda, aib justru dibuka.
Kondisi tersebut membuat sebagian orang, seiring bertambahnya usia dan pengalaman, memilih memperkecil lingkaran pertemanan. Bukan karena membenci kehidupan sosial, melainkan karena mulai memahami bahwa kualitas persahabatan jauh lebih berharga daripada banyaknya orang yang berada di sekeliling kita.
Dalam Islam, persaudaraan bukan sekadar terlihat akrab ketika bertemu. Persaudaraan juga berarti menjaga kehormatan seseorang ketika ia tidak berada di hadapan kita. Allah SWT melalui QS. Al-Hujurat ayat 12 mengingatkan agar manusia menjauhi banyak prasangka, tidak mencari-cari kesalahan orang lain dan tidak menggunjing satu sama lain.
Ghibah bahkan digambarkan dengan perumpamaan yang sangat keras, yaitu seperti memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal. Pesannya jelas bahwa kesalahan dan kekurangan orang lain bukanlah bahan hiburan, apalagi dijadikan senjata untuk menjatuhkan seseorang ketika hubungan persahabatan berakhir.
Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzalimi saudaranya dan tidak membiarkannya teraniaya. Dalam hadis riwayat Muslim juga terdapat ajaran mengenai keutamaan menutupi aib seorang Muslim. Karena itu, orang yang pernah mempercayakan rahasianya kepada kita tetap memiliki kehormatan yang harus dijaga.
Persahabatan sejati justru diuji ketika terjadi perbedaan. Saat hubungan masih baik, hampir semua orang mampu tersenyum dan saling memuji. Namun ketika perselisihan muncul, di situlah akhlak seseorang diuji: apakah tetap menjaga ucapan dan rahasia, atau membuka seluruh kekurangan orang yang pernah dekat dengannya.
Islam tidak melarang seseorang membela diri ketika dizalimi. Seseorang juga dapat menyampaikan fakta kepada pihak yang berwenang apabila diperlukan untuk memperoleh keadilan. Namun hal tersebut berbeda dengan menyebarkan aib semata-mata untuk mempermalukan, membalas sakit hati atau menghancurkan nama baik seseorang. Jangan karena hari ini bermusuhan, seluruh kebaikan kemarin dianggap tidak pernah ada.
Persoalan pertemanan juga sering semakin buruk karena informasi yang belum diperiksa kebenarannya. Allah SWT melalui QS. Al-Hujurat ayat 6 mengajarkan prinsip tabayyun, yaitu memeriksa dan memastikan suatu berita agar seseorang tidak mencelakakan pihak lain karena ketidaktahuan, kemudian menyesali perbuatannya.
Prinsip tabayyun semakin penting pada zaman media sosial. Satu tuduhan, tangkapan layar, rekaman percakapan atau cerita sepihak dapat menyebar dalam hitungan menit, padahal belum tentu masyarakat mengetahui konteks dan persoalan sebenarnya. Karena itu, jangan mudah menjadi hakim hanya berdasarkan cerita dari satu pihak.
Semakin dewasa, seseorang biasanya semakin memahami bahwa tidak semua orang yang datang harus masuk terlalu jauh ke dalam kehidupan pribadinya. Memiliki sedikit teman bukan sebuah kegagalan. Lebih baik mempunyai beberapa sahabat yang jujur, amanah dan tetap menjaga kehormatan kita ketika kita tidak ada daripada dikelilingi banyak orang yang hanya hadir ketika memiliki kepentingan.
Pertemanan yang sehat bukan tentang siapa yang paling sering berfoto bersama atau siapa yang paling banyak terlihat bersama di media sosial. Sahabat sejati adalah orang yang tetap menjaga nama kita ketika kita tidak berada di ruangan itu. Ia menasihati ketika kita salah, mengingatkan ketika kita lupa dan tidak menunggu kita jatuh untuk kemudian mempermalukan.
Sahabat sejati juga menjaga rahasia ketika hubungan sedang baik maupun ketika hubungan sedang renggang. Sebab ukuran persahabatan bukan hanya terlihat ketika dua orang tertawa bersama, tetapi juga ketika hubungan menghadapi masalah. Karakter seseorang justru lebih terlihat ketika ia memiliki alasan untuk membalas, tetapi memilih tetap menjaga kehormatan orang lain.
Islam juga mengajarkan bahwa keburukan tidak harus dibalas dengan keburukan. Allah SWT dalam QS. Fussilat ayat 34 mengingatkan bahwa kebaikan dan kejahatan tidaklah sama serta mengajarkan agar keburukan ditolak dengan cara yang lebih baik. Memaafkan memang tidak selalu mudah, tetapi tidak semua serangan harus dibalas dengan serangan yang sama.
Ada kalanya menjauh dengan terhormat jauh lebih baik daripada mempertahankan hubungan yang penuh kepalsuan. Menjaga jarak bukan selalu berarti membenci. Terkadang, hal tersebut menjadi cara seseorang menjaga ketenangan dan menghindari konflik yang semakin melebar. Yang penting, perpisahan tidak harus berubah menjadi perang untuk membuka semua rahasia.
Kita boleh kehilangan teman, berbeda pandangan atau memilih jalan masing-masing. Namun jangan kehilangan akhlak hanya karena sebuah hubungan telah berakhir. Jangan membuka rahasia yang dahulu dipercayakan kepada kita, jangan membuat cerita palsu demi mendapatkan pembenaran dan jangan menjatuhkan seseorang hanya karena ia sudah tidak berada dalam lingkaran kita.
Sebab setiap perkataan mempunyai pertanggungjawaban. Allah SWT mengingatkan dalam QS. Qaf ayat 18 bahwa tidak ada suatu kata yang diucapkan manusia melainkan ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatatnya. Karena itu, sebelum berbicara atau menyebarkan sesuatu tentang orang lain, perlu dipikirkan kembali dampaknya.

Ketua Umum YLPK PERARI, Hefi Irawan, S.H., M.H., yang juga pimpinan Law Firm Hefi Sanjaya & Partners, memberikan pesan moral bahwa persahabatan semestinya dibangun dengan kejujuran, amanah dan akhlak. Dalam perspektif nilai-nilai Islam, perbedaan maupun berakhirnya sebuah hubungan tidak seharusnya menjadi alasan untuk membuka aib dan merendahkan kehormatan orang lain.
“Dalam Islam, menjaga lisan adalah bagian dari menjaga kehormatan. Jangan karena persahabatan berakhir, lalu aib saudara dibuka dan kesalahannya dijadikan senjata. Kalau pernah dipercaya, jagalah kepercayaan itu. Kalau pernah disakiti, jangan membalas dengan cara yang sama. Sampaikan kebenaran dengan adab, lakukan tabayyun sebelum mempercayai berita, dan jangan biarkan perselisihan menghilangkan akhlak. Sebab kita bukan hanya bertanggung jawab kepada manusia, tetapi juga kepada Allah SWT.”
Pada akhirnya, persahabatan sejati bukan diukur dari berapa lama duduk bersama, berapa banyak foto bersama atau seberapa sering tertawa bersama. Persahabatan sejati terlihat ketika terjadi perbedaan dan perselisihan. Jika hubungan harus berakhir, akhiri dengan adab. Jika kecewa, jangan membuka aib. Jika mendengar kabar buruk tentang saudara kita, lakukan tabayyun terlebih dahulu.
Jika pernah menerima kebaikannya, jangan menghapus seluruh kebaikan itu hanya karena satu perselisihan. Dan apabila lingkungan pertemanan membuat kita semakin dekat kepada fitnah, ghibah, iri hati dan permusuhan, tidak ada salahnya memperkecil lingkaran pertemanan. Lebih baik sedikit teman tetapi tulus daripada banyak teman namun penuh kepentingan.
Pada akhirnya, dalam pandangan Islam, persaudaraan bukan hanya tentang siapa yang menemani kita ketika tertawa, tetapi juga siapa yang tetap menjaga kehormatan kita ketika kita tidak ada. Jaga lisan, jaga aib saudaramu dan jangan biarkan perselisihan menghilangkan akhlak. Hubungan boleh berakhir, pertemanan boleh berubah dan jalan hidup boleh berbeda, tetapi kehormatan manusia tetap harus dijaga.
Wallahu a’lam bish-shawab.
(RED)











