Mantv7.com | JAKARTA — Di tengah gemuruh musik Pestapora 2026, ada pemandangan yang menghadirkan kesejukan tersendiri. Sejumlah pemuda dan pemudi justru sibuk membersihkan karpet, merapikan mukena, hingga membantu pengunjung beribadah. Mereka bukan bintang panggung, tetapi menghadirkan kebaikan yang layak mendapat tepuk tangan.
Pestapora berlangsung pada 25–27 September 2026 di Gambir Expo dan Hall D2, JIEXPO Kemayoran, Jakarta, dengan gerbang dibuka pukul 14.00 WIB setiap hari. Di antara ramainya pengunjung, pelayanan musholla menjadi potret menarik bahwa festival musik juga dapat menghadirkan ruang bagi kepedulian sosial dan kehidupan beragama.
Dalam video yang beredar di media sosial, relawan terlihat menyedot debu pada karpet, menjaga kebersihan ruangan, serta menata sarung dan mukena pada gantungan. Perhatian terhadap hal-hal sederhana itu memudahkan pengunjung menggunakan perlengkapan ibadah, termasuk mereka yang tidak membawa perlengkapan sendiri.
Pelayanan mereka tidak berhenti pada urusan kebersihan. Relawan juga terlihat membantu merapikan alas kaki dan perlengkapan sholat pengunjung. Unggahan tersebut menyandingkan dua ungkapan: “Pelayanan Hotel bintang lima” dan “Pelayanan tempat sholat di acara konser bintang lima”. Pesannya sederhana, pelayanan berkualitas bukan semata soal kemewahan, tetapi juga kepedulian.

Respons warganet pun bermunculan. Akun khanzafiqah menulis “kereeeen”, Siti Yulianti new memberikan pujian serupa, sedangkan agusss_176 menyampaikan “masyaallah”. Akun mas karyo mengajak, “hayo sebarkan kebaikan”. Komentar-komentar tersebut memperlihatkan bagaimana aksi nyata dapat mengundang apresiasi sekaligus mendorong orang lain menebarkan manfaat.
Pengalaman pengunjung turut memperkuat kesan positif. Amuu.baa. mengaku mampir pada hari pertama Pestapora dan menulis, “bener bener nyaman dan bersih banget”. Sementara itu, Ojanorch menyampaikan terima kasih karena musholla terasa nyaman, harum, dan selalu bersih. Kesaksian mereka memberi gambaran bahwa pelayanan yang baik bukan sekadar terlihat dalam video, melainkan juga dirasakan langsung.
Hal menarik lainnya datang dari Pak We yang menulis, “anak muda bertindak dan terlihatlah anak muda lain yang terinspirasi, 1 jadi 2, 2 jadi 4, terus berlipat doa dan pahalanya, amin”. Pesan itu menggambarkan kekuatan teladan: satu tindakan baik dapat menggerakkan orang lain, kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih luas.
Semangat tersebut juga terlihat dalam komentar moya putri yang berharap kembali mendapat kesempatan terlibat dalam gerakan serupa. Akun badut dunia bahkan bertanya bagaimana caranya menjadi relawan. Adapun Assyifa Laila berharap kegiatan itu “berkah dan Istiqomah”. Artinya, aksi tersebut tidak hanya menuai pujian, tetapi juga menumbuhkan keinginan untuk ikut berbuat.
Dari sisi sosial-keagamaan, pelayanan ini mencerminkan dakwah bil hal, yakni menyampaikan nilai kebaikan melalui tindakan nyata. Para relawan memilih membantu, bukan menghakimi. Karpet bersih, mukena tertata, dan sapaan ramah bisa menjadi pesan kebaikan yang membekas tanpa harus disampaikan melalui ceramah panjang.
Sebagian warganet juga berharap fasilitas serupa hadir dalam konser lainnya. Akun Yourpidii, misalnya, menulis, “Semoga ada nanti di konser BTS”. Harapan ini menjadi pengingat bahwa kebutuhan beribadah patut diperhatikan dalam berbagai kegiatan publik, tanpa memandang jenis pertunjukan maupun latar belakang pengunjung.
Tentu, keberlanjutan pelayanan membutuhkan dukungan penyelenggara. Ruang sholat yang layak, tempat wudhu memadai, perlengkapan bersih, akses yang jelas, dan pengaturan relawan perlu diperhatikan sejak perencanaan acara. Apresiasi kepada relawan akan semakin berarti jika diikuti fasilitas yang aman, nyaman, dan mudah dijangkau.
Bagi generasi muda, kegiatan ini membuktikan bahwa kontribusi sosial tidak selalu membutuhkan jabatan atau biaya besar. Meluangkan waktu, menjaga kebersihan, dan membantu sesama merupakan praktik sederhana untuk melatih tanggung jawab, kedisiplinan, serta kepekaan sosial. Dari tindakan kecil, nilai kepedulian dapat tumbuh menjadi kebiasaan bersama.
Pada akhirnya, Pestapora 2026 memberikan pelajaran bahwa kemeriahan festival tidak hanya dinilai dari panggung megah atau penampilan musisi. Ada nilai lain yang tak kalah penting, yaitu bagaimana manusia saling melayani di tengah keramaian.
Ketika lampu panggung padam dan musik berhenti, mungkin yang paling lama tinggal dalam ingatan bukan hanya lagu favorit, melainkan pengalaman menemukan musholla yang bersih, relawan yang tulus, dan kebaikan yang membuat hati tersenyum.
(RED)











