Mantv7.com | Tangerang — Ada satu pertanyaan sederhana yang patut kita ajukan kepada diri sendiri setiap pagi: Sudahkah kita benar-benar bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan, atau selama ini kita hanya pandai meminta, tetapi lupa berterima kasih? Sebelum sibuk mengejar pekerjaan, menghitung penghasilan, dan mengeluhkan keadaan, kita masih diberi kesempatan untuk bernapas.
Coba renungkan, setiap tarikan napas yang kita hirup tidak dikenakan pajak, tidak memiliki barcode pembayaran, dan tidak membutuhkan saldo rekening. Namun, pernahkah kita menyadari bahwa udara yang begitu mudah dinikmati merupakan anugerah yang tidak mampu dibeli dengan seluruh kekayaan dunia? Kita sering menganggapnya biasa, justru karena nikmat itu belum pernah benar-benar hilang.
Kehidupan sehari-hari memperlihatkan betapa mudah manusia terjebak dalam keluhan. Penghasilan dianggap kurang, pekerjaan dirasa tidak memuaskan, kendaraan belum mewah, dan rumah belum megah. Kita sibuk membandingkan kehidupan dengan orang lain, hingga lupa bahwa di luar sana ada seseorang yang sedang berjuang untuk sekadar menghirup udara tanpa rasa sakit.
Ketika tubuh sehat, kita jarang memikirkan betapa berharganya kesehatan. Ketika mata masih mampu melihat, kita lupa bahwa penglihatan adalah karunia. Ketika orang tua masih berada di dekat kita, terkadang nasihat mereka justru dianggap mengganggu. Sering kali, manusia baru memahami nilai sebuah nikmat setelah kehilangan kesempatan untuk menikmatinya.

Renungan ini bukan untuk menghakimi siapa pun, melainkan mengajak kita bercermin. Sebab, tanpa disadari, kita terkadang lebih pandai menghitung kekurangan daripada mensyukuri keberlimpahan. Kita memiliki lisan untuk berterima kasih, tetapi lebih sering menggunakannya untuk mengeluh; memiliki akal untuk merenung, tetapi terkadang justru sibuk mencari pembenaran.
Dalam bacaan doa sujud, kita diingatkan tentang kebesaran Allah SWT sebagai Pencipta yang menyempurnakan tubuh, pendengaran, dan penglihatan manusia. “Sajada wajhiya lilladzi khalaqahu wa sawwarahu, wa syaqqa sam’ahu wa basharahu, bi haulihi wa quwwatihi, fatabarakallahu ahsanul khaliqin.” Doa ini mengandung pengakuan bahwa segala kemampuan yang kita miliki bersumber dari kehendak dan kekuasaan-Nya.
Maknanya begitu dalam: wajah kita bersujud kepada Zat yang menciptakan dan menyempurnakannya, serta memberikan pendengaran dan penglihatan dengan daya dan kekuatan-Nya. Kita bukan pemilik mutlak atas kehidupan, melainkan hamba yang diberi kesempatan untuk menikmati dan menjaga anugerah-Nya.
Dari sudut pandang pendidikan, rasa syukur bukan sekadar ucapan “Alhamdulillah”, melainkan karakter yang perlu dibangun melalui kebiasaan. Menghargai kesehatan dapat diwujudkan dengan menjaga tubuh, menghargai penglihatan dengan menggunakan mata untuk kebaikan, serta menghargai pendengaran dengan menerima nasihat yang bermanfaat. Syukur seharusnya melahirkan tindakan, bukan berhenti pada kata-kata.

Yuli Murtia, S.H., Kabid Literasi Hukum dan Pendidikan YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, menegaskan bahwa pendidikan sejatinya tidak hanya membentuk manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual. “Rasa syukur perlu ditanamkan sejak dini, bukan hanya melalui nasihat, tetapi melalui keteladanan. Anak-anak harus belajar bahwa setiap nikmat membawa tanggung jawab. Ketika kita diberi kesehatan, gunakan untuk kebaikan; ketika diberi kemampuan, manfaatkan untuk membantu sesama.”
Menurutnya, nilai syukur juga dapat menjadi fondasi dalam membangun kehidupan sosial yang lebih baik. Bahwa seseorang yang mampu menghargai nikmat cenderung lebih mudah menghormati orang lain, tidak berlebihan dalam membandingkan diri, serta memiliki kepedulian terhadap mereka yang sedang menghadapi kesulitan. Pendidikan karakter akan lebih bermakna ketika nilai-nilai tersebut benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, sebelum kembali mengeluhkan keadaan, mari bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita bersyukur atas napas yang masih berembus, tubuh yang masih bergerak, keluarga yang masih bersama, dan kesempatan yang masih terbuka? Jangan sampai kita menjadi manusia yang baru belajar menghargai setelah semuanya berubah menjadi kenangan.
Ya Allah, ampunilah kami yang sering lupa bersyukur. Bimbinglah kami agar mampu bersabar ketika diuji, tetap rendah hati ketika diberi, dan tidak melupakan-Mu dalam setiap langkah kehidupan. Semoga setiap nikmat yang Engkau titipkan menjadi jalan bagi kami untuk memperbaiki diri dan menebarkan kebaikan.
Pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang seberapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan, tetapi seberapa dalam kita memahami arti sebuah pemberian. Hari ini kita masih bernapas, masih melihat, masih mendengar, dan masih memiliki kesempatan untuk berubah. Jangan tunggu kehilangan untuk belajar bersyukur. Sebab, boleh jadi napas yang kita hirup hari ini adalah nikmat yang diam-diam sedang dirindukan oleh seseorang yang telah pergi.
Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
(RED)











