AgamaBeritaPendidikan

Di Tengah Banjir Aceh, Anak-Anak Berebut Al-Qur’an: Ketika Iman Menjadi Pegangan dan Nurani Orang Dewasa Diuji

152
×

Di Tengah Banjir Aceh, Anak-Anak Berebut Al-Qur’an: Ketika Iman Menjadi Pegangan dan Nurani Orang Dewasa Diuji

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Banjir masih menggenang di sejumlah wilayah Aceh. Lumpur belum sepenuhnya surut, rumah-rumah rusak menjadi saksi bisu, dan aktivitas warga berjalan dalam keterbatasan. Namun di tengah situasi darurat itu, sebuah peristiwa tak biasa justru menyentuh relung hati para relawan dan masyarakat luas. Anak-anak korban banjir tidak berebut jajanan, tidak pula meminta mainan atau gawai. Mereka justru berebut Al-Qur’an.

Peristiwa tersebut terjadi saat pendistribusian bantuan kemanusiaan di salah satu lokasi terdampak. Ketika relawan membuka kardus berisi mushaf, anak-anak spontan mengerubungi. Tangan-tangan kecil itu terulur dengan mata berbinar. Tanpa komando, tanpa paksaan. Seolah mereka memahami bahwa di tengah kehilangan yang begitu besar, iman adalah pegangan terakhir yang tak boleh hanyut.

Fenomena ini menjadi kontras yang kuat dengan gambaran anak-anak pada umumnya. Di saat sebagian besar anak seusia mereka lekat dengan hiburan dan kesenangan duniawi, anak-anak Aceh justru memilih mendekap kitab suci. Sebuah pemandangan yang bukan sekadar mengharukan, melainkan menggetarkan kesadaran publik.

Banjir yang melanda kawasan tersebut sendiri masih menyisakan tanda tanya. Sejumlah pihak menduga, musibah ini tidak semata-mata dipicu oleh faktor alam. Ada indikasi, asumsi publik, hingga sinyal kuat yang mengarah pada kerusakan lingkungan dan aktivitas pembalakan hutan di wilayah hulu, meskipun hal tersebut masih berada dalam ranah klarifikasi dan menunggu penjelasan resmi dari instansi terkait.

Warga setempat mengungkapkan bahwa intensitas dan kecepatan banjir kini terasa berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dugaan tersebut diperkuat dengan berkurangnya kawasan resapan air dan perubahan bentang alam. Meski demikian, pihak berwenang diharapkan segera memberikan keterangan terbuka agar informasi tidak berkembang liar dan spekulatif. Di tengah situasi itulah, suara dari kalangan ulama menambah kedalaman makna atas peristiwa ini.

Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, selaku Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa). Foto: Mantv7.com

Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa), Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, menyebut fenomena anak-anak Aceh yang berebut Al-Qur’an sebagai tanda hidupnya iman di saat manusia diuji musibah.

“Ini pemandangan yang secara lahir tampak aneh, tapi secara batin justru sangat mulia. Ketika anak-anak di banyak tempat berebut mainan dan hiburan, anak-anak Aceh yang sedang diuji banjir malah mencari Al-Qur’an. Ini bukan kebetulan, ini petunjuk,” ujar Ustadz Ambia dengan nada syahdu.

Menurutnya, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan bagi anak-anak tersebut, melainkan pelukan Allah di tengah kehilangan. “Mereka mungkin kehilangan rumah, pakaian, bahkan rasa aman. Tapi Allah jaga hati mereka agar tidak kehilangan iman. Di usia yang begitu belia, mereka sudah diajarkan keadaan untuk memahami bahwa Al-Qur’an adalah tempat bersandar ketika dunia terasa runtuh,” tuturnya.

Ustadz Ambia juga menilai, peristiwa ini seharusnya menjadi cermin keras bagi orang dewasa, khususnya mereka yang memegang amanah menjaga alam dan kehidupan bersama. “Anak-anak itu tidak menuntut, tidak menunjuk siapa yang salah. Mereka hanya meminta Al-Qur’an. Tapi justru di situlah teguran paling dalam: ketika yang kecil menjaga wahyu, sementara yang dewasa lalai menjaga amanah,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa bencana tidak hanya menguji para korban, tetapi juga menjadi peringatan bagi semua pihak. “Musibah bukan hanya air yang meluap. Ia bisa menjadi pesan agar manusia kembali adil pada alam dan jujur pada tanggung jawabnya. Jangan sampai anak-anak ini lebih dulu sadar, sementara kita yang dewasa masih sibuk membela kelalaian,” tambahnya.

Aceh kembali diuji. Air boleh merendam tanah, dan lumpur boleh menutup jalan, namun iman anak-anak ini berdiri tegak, bahkan saat orang dewasa masih terjebak dalam perdebatan sebab dan akibat. Kini publik menunggu lebih dari sekadar simpati dan empati. Klarifikasi, evaluasi, dan langkah nyata diperlukan agar bencana serupa tidak terus berulang. Sebab jika anak-anak kecil saja mampu menjaga iman di tengah musibah, maka tidak ada alasan bagi siapa pun untuk mengabaikan tanggung jawab menjaga alam dan masa depan generasi berikutnya.

Kadang Tuhan menegur dunia bukan lewat petir dan banjir semata, tetapi lewat iman anak-anak kecil yang tetap bercahaya saat segalanya gelap.

(OIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks