Mantv7.com | Ada pesan yang terasa sederhana dalam “Ya Robbi Ya Illahi” karya musisi Opick bersama Derry Sulaiman, tetapi semakin direnungkan justru semakin dalam maknanya. Lagu ini seperti mengajak manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan dan mengingat kembali bahwa segala suasana, keadaan, kemuliaan, maupun perubahan hidup pada akhirnya berada dalam kehendak Allah SWT. Pesan itu mengingatkan bahwa Allah SWT-lah yang menciptakan seluruh suasana dan keadaan. Dialah yang memuliakan dan menghinakan. Manusia boleh berusaha, menyusun rencana, memiliki kedudukan, bahkan memperoleh kekuasaan, tetapi tidak pernah menjadi pemilik mutlak atas keadaan. Ada kehendak Allah yang berada di atas seluruh kehendak manusia.
Di sinilah kekuasaan seharusnya dipandang sebagai ujian, bukan kemuliaan. Sebab seseorang bisa saja mendapatkan jabatan tinggi, dihormati banyak orang, memiliki kewenangan luas dan berada di tempat yang strategis. Namun semua itu tidak otomatis menjadikannya mulia. Justru semakin besar kekuasaan, semakin besar pula amanah yang harus dijaga.
Pesan lagu tersebut terasa semakin dalam ketika mengingat bahwa Allah mampu memuliakan orang biasa tanpa menjadikannya raja. Kemuliaan tidak selalu datang bersama pangkat, jabatan, kekayaan atau kekuasaan. Seseorang yang hidup sederhana bisa memiliki kemuliaan karena kejujuran, ketulusan, ketakwaan, kesabaran dan manfaat yang diberikan kepada orang lain.
Sebaliknya, Allah juga berkuasa menghinakan seorang raja tanpa harus mengambil kerajaannya. Seseorang bisa tetap memiliki jabatan, tetapi kehilangan kepercayaan. Masih memiliki kewenangan, tetapi kehilangan keteladanan. Masih dikelilingi banyak orang, tetapi tidak lagi mendapatkan penghormatan yang tulus. Sebab kemuliaan sejati tidak selalu terlihat dari apa yang berada di tangan manusia.
Yuli Murtia, S.H., Kabid Literasi Hukum dan Pendidikan YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, menilai pesan tersebut menjadi pengingat penting bagi siapa pun yang sedang memegang amanah, terutama mereka yang berada dalam posisi memiliki kewenangan.
“Menurut saya, pesan dalam lagu ini sangat dalam. Manusia jangan merasa tinggi hanya karena sedang memiliki jabatan atau kekuasaan. Semua itu titipan. Allah yang menciptakan keadaan, Allah pula yang berkuasa mengubahnya. Karena itu, semakin tinggi seseorang ditempatkan, seharusnya semakin rendah hati dan semakin besar tanggung jawabnya,” ujar Yuli.

Menurutnya, masyarakat juga perlu memahami bahwa keadaan hidup tidak selalu berjalan seperti yang direncanakan manusia. “Jangan sombong ketika sedang berada di atas dan jangan kehilangan harapan ketika sedang berada di bawah. Allah bisa memuliakan orang biasa tanpa menjadikannya raja, dan Allah bisa mengubah keadaan seseorang tanpa harus mengubah seluruh yang terlihat dari luar,” katanya.
Dalam kehidupan publik, pesan tersebut menjadi semakin relevan. Jabatan seharusnya tidak menjadi alasan untuk menjauh dari rakyat, sementara kritik masyarakat tidak seharusnya selalu dipandang sebagai ancaman. Kritik yang disampaikan berdasarkan fakta dapat menjadi pengingat agar amanah tetap berada pada jalurnya. Sebaliknya, pemegang kewenangan juga perlu membuka ruang untuk menjelaskan kebijakan dan mempertanggungjawabkan keputusan.
Karena itu, ketika seseorang diberi jabatan, yang seharusnya tumbuh bukan rasa paling berkuasa, melainkan kesadaran bahwa dirinya sedang diuji. Apakah kewenangan digunakan untuk melayani atau justru untuk kepentingan diri sendiri? Apakah kekuasaan digunakan untuk menghadirkan keadilan atau membuat jarak dengan masyarakat? Pertanyaan-pertanyaan tersebut pada akhirnya kembali kepada hati dan tanggung jawab masing-masing.
Begitu pula bagi masyarakat yang sedang berada dalam kesulitan. Pesan ini mengajarkan agar manusia tidak cepat menyerah terhadap keadaan. Hari ini seseorang mungkin berada di bawah, tetapi bukan berarti selamanya akan berada di sana. Allah yang menciptakan keadaan juga berkuasa mengubah keadaan. Jalan yang tertutup hari ini bisa terbuka ketika waktunya tiba.
Inilah kekuatan refleksi “Ya Robbi Ya Illahi”. Lagu tersebut bukan sekadar lantunan religi, tetapi dapat menjadi cermin bagi manusia untuk memahami posisi dirinya. Everything in the hand of Allah. Segala sesuatu berada dalam genggaman Allah SWT. Manusia berusaha, manusia berdoa, manusia menjalankan amanah, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak-Nya.
Manusia boleh membuat rencana, tetapi kehendak Allah berada di atas seluruh rencana. Manusia boleh menginginkan sesuatu, tetapi tidak semua yang diinginkan harus terjadi. Apa saja yang Allah kehendaki, terjadi. Pasti akan terjadi. Kesadaran tersebut bukan alasan untuk berhenti berusaha, melainkan alasan agar manusia tetap rendah hati ketika berhasil dan tetap kuat ketika diuji.
Maka mari kita sama-sama mencerna pesan lagu Opick bersama Derry Sulaiman ini tanpa merasa sedang menunjuk siapa pun. Mungkin pesan ini justru sedang mengingatkan diri kita masing-masing: jangan sombong ketika dimuliakan, jangan meremehkan orang lain ketika berada di atas, jangan menyalahgunakan amanah, dan jangan kehilangan harapan ketika keadaan sedang sulit.
Pada akhirnya, kekuasaan adalah ujian, bukan kemuliaan. Jabatan adalah titipan, bukan mahkota. Kemuliaan bukan ditentukan oleh seberapa tinggi seseorang berdiri di hadapan manusia, melainkan oleh bagaimana ia menjalankan amanah yang diberikan kepadanya.
Dan ketika semua jabatan selesai, tepuk tangan berhenti, kekuasaan berganti dan kehidupan terus berjalan, yang tersisa bukanlah kursi yang pernah diduduki, melainkan amanah, perbuatan dan pertanggungjawaban.
Oleh karena itu, selama masih diberi kesempatan, gunakan kewenangan untuk kebaikan, gunakan jabatan untuk melayani, gunakan kekuasaan untuk menjaga keadilan, dan jangan pernah lupa merendahkan hati di hadapan Allah SWT.
Sebab semuanya berada di tangan Allah. Dia yang mengangkat, Dia yang menguji, Dia yang memuliakan, dan Dia pula yang menentukan perubahan setiap keadaan.
(RED)











