BeritaNasional

Sumatera Barat 81 Tahun: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Bukan Sekadar Falsafah, Tetapi Jalan Menjaga Budaya dan Membangun Masa Depan

74
×

Sumatera Barat 81 Tahun: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Bukan Sekadar Falsafah, Tetapi Jalan Menjaga Budaya dan Membangun Masa Depan

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | PADANG, SUMATERA BARAT — Tepat 1 Oktober 2026, Sumatera Barat genap berusia 81 tahun. Momentum tersebut bukan sekadar perayaan usia daerah, melainkan ruang untuk kembali melihat perjalanan Ranah Minang sekaligus membaca tantangan yang harus dijawab bersama.

Delapan dekade lebih perjalanan Sumatera Barat menunjukkan bahwa kekuatan daerah tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik. Adat, budaya, pendidikan, gotong royong, kehidupan sosial, serta hubungan ranah dan rantau menjadi modal penting dalam menghadapi perubahan zaman.

Di tengah perubahan itu, falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Nilainya tidak semestinya berhenti sebagai ungkapan warisan, tetapi dapat diterjemahkan dalam perilaku: menjaga kejujuran, menghormati sesama, bekerja sungguh-sungguh, serta menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Bagi Donny Putra T., S.H., Ketua DPD IKM Kabupaten Tangerang sekaligus Ketua DPC YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, yang merupakan putra Minang dan kini hidup di perantauan, usia ke-81 Sumatera Barat menjadi pengingat bahwa jarak geografis tidak seharusnya memutus kepedulian terhadap ranah.

“Sebagai orang Minang yang merantau di Kabupaten Tangerang, saya membawa rasa bangga sekaligus tanggung jawab moral terhadap ranah. Kerinduan jangan berhenti menjadi cerita; kalau punya ilmu, jaringan, pengalaman, atau kemampuan, mari kita ubah menjadi kontribusi,” ujar Donny.

Menurutnya, makna ranah dan rantau dapat diperluas dalam konteks kehidupan modern. Perantau tidak harus selalu kembali secara fisik untuk memberikan manfaat. Profesi, usaha, pendidikan, pengalaman, jaringan, teknologi hingga kegiatan sosial dapat menjadi jembatan kontribusi bagi kampung halaman.

Semangat pulang basamo pun dapat dimaknai bukan hanya sebagai kepulangan bersama secara fisik, tetapi juga sebagai gerakan menghadirkan pengetahuan, peluang, gagasan dan manfaat dari rantau untuk memperkuat ranah.

Di sektor ekonomi, Sumatera Barat memiliki ruang besar untuk terus mengembangkan UMKM, kuliner, kerajinan, ekonomi kreatif dan pariwisata. Perkembangan teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk memperluas pasar sekaligus memperkenalkan identitas Minangkabau kepada masyarakat yang lebih luas.

Namun, kemajuan ekonomi perlu berjalan beriringan dengan pembangunan yang memperhatikan kondisi geografis dan risiko bencana. Infrastruktur bukan hanya soal cepat dibangun dan digunakan, tetapi juga harus tangguh, aman, mudah dirawat dan memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Pembangunan manusia juga tidak boleh ditempatkan di belakang. Pendidikan dan kesehatan merupakan investasi jangka panjang, sehingga mutu sekolah, pemerataan layanan kesehatan, pencegahan stunting, serta peningkatan keterampilan digital menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi Sumatera Barat menghadapi masa depan.

Pada titik inilah pemerintah, masyarakat, dunia usaha, generasi muda dan perantau memiliki ruang kontribusi masing-masing. Pelayanan publik harus berorientasi kepada masyarakat, sementara kebijakan pembangunan idealnya diterjemahkan menjadi program yang terbuka, terukur dan benar-benar dirasakan hingga tingkat nagari.

Ukuran kemajuan Sumatera Barat pun tidak semestinya hanya dilihat dari gedung, jalan atau angka pertumbuhan ekonomi. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah keluarga di nagari memperoleh peluang ekonomi? Apakah anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak? Apakah warga memperoleh layanan kesehatan yang baik? Dan apakah lingkungan tetap terjaga untuk generasi berikutnya?

Karena itu, 81 tahun Sumatera Barat sepatutnya menjadi momentum mengubah perayaan menjadi gerakan nyata. Membeli dan mengembangkan produk lokal, menjaga lingkungan, meningkatkan keterampilan, memperkuat UMKM, merawat adat, membangun jejaring dan membuka ruang kolaborasi adalah bentuk kontribusi yang dapat dimulai dari langkah sederhana.

Falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana sebuah masyarakat menjaga warisan masa lalu, tetapi juga bagaimana nilai tersebut diterjemahkan untuk menjawab kebutuhan masa kini dan tantangan masa depan.

Dari ranah hingga rantau, kontribusi dapat hadir dalam berbagai bentuk. Sebab Sumatera Barat tidak hanya membutuhkan tepuk tangan saat memperingati hari jadinya, tetapi juga tangan yang mau bekerja, pikiran yang mau berbagi dan hati yang tetap peduli terhadap ranah.

Jika akar budaya tetap kuat, pendidikan terus tumbuh, inovasi berkembang dan ranah-rantau bergerak dalam semangat kebersamaan, maka usia ke-81 bukan sekadar angka dalam perjalanan sejarah. Ia dapat menjadi pintu menuju Sumatera Barat yang semakin berdaya, lestari dan mampu menatap masa depan tanpa kehilangan jati diri.

Dirgahayu Sumatera Barat ke-81. Dari ranah ke rantau, mari menjaga nilai, memperkuat kontribusi dan membangun masa depan bersama.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks