BeritaKabupatenPemerintahan

Dari Edih ke Karifah hingga Romyati, Tiga Kisah Warga Muncul Beruntun: Patrasana dan Kecamatan Kresek Patut Menjawab

74
×

Dari Edih ke Karifah hingga Romyati, Tiga Kisah Warga Muncul Beruntun: Patrasana dan Kecamatan Kresek Patut Menjawab

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Tangerang — Belum selesai perhatian publik terhadap Edih dan Suminah, kemudian muncul kondisi Karifah, kini Bang John kembali menemukan keluarga lain di Kampung Asemuda, Desa Patrasana, Kecamatan Kresek. Kali ini, Sudir dan Romyati menghadapi persoalan yang tak kalah berat.

Keluarga tersebut hidup dengan kondisi ekonomi terbatas. Sudir diketahui bekerja sebagai buruh harian lepas dengan pekerjaan serabutan dan sistem borongan. Namun, informasi yang diterima menyebutkan keluarga ini belum pernah memperoleh bantuan sosial pemerintah.

Persoalan semakin berat karena kondisi rumah keluarga tersebut juga disebut rusak dan tidak layak huni. Bagian bangunan yang berlubang membuat penghuni harus menghadapi kondisi tempat tinggal yang jauh dari rasa aman dan nyaman, terlebih ketika musim hujan mulai datang dan hujan telah turun di sejumlah titik wilayah Kabupaten Tangerang dalam beberapa hari terakhir.

Di tengah keadaan itu, Romyati bersama anak-anaknya disebut masih menjalani kehidupan sehari-hari setelah Sudir tidak lagi tinggal bersama keluarga dan keberadaannya belum diketahui oleh keluarga. Kondisi tersebut membuat beban rumah tangga semakin berat, sementara kebutuhan anak-anak tetap harus dipenuhi.

Temuan ini kembali diperoleh Yonsori, SE atau Bang John, Ketua Harian LMPI Kabupaten Tangerang, yang turun langsung melihat kondisi keluarga tersebut. Setelah melihat keadaan rumah dan mendengar cerita keluarga, informasi itu kembali disampaikan kepada YLPK PERARI Kabupaten Tangerang dan Media Mantv7.com untuk menjadi perhatian publik.

Jika sebelumnya ada dua keluarga dengan persoalan serupa, kini muncul keluarga ketiga. Pertanyaannya semakin sederhana: apakah kondisi warga rentan di Kampung Asemuda sudah benar-benar dipetakan? Atau masih ada warga yang belum tersentuh pendataan dan pengusulan bantuan secara optimal?

Kondisi Romyati juga menimbulkan pertanyaan mengenai pemutakhiran data keluarga. Apabila kondisi faktual di lapangan berbeda dengan keadaan administrasi dalam Kartu Keluarga, apakah sudah ada pendampingan untuk memastikan data kependudukan dan data kesejahteraan sosial tetap sesuai keadaan sebenarnya?

Karena itu, Pemerintah Desa Patrasana patut memberikan penjelasan mengenai apakah keluarga tersebut sudah pernah diverifikasi sebagai warga yang membutuhkan bantuan sosial maupun rehabilitasi rumah. Jika belum pernah menerima bantuan, publik tentu layak mengetahui apa yang menjadi kendalanya.

Sorotan juga kembali mengarah kepada Kecamatan Kresek. Bukan untuk menentukan siapa yang salah, tetapi karena persoalan serupa telah muncul berulang dari wilayah yang sama. Tiga keluarga, satu kampung, persoalan yang hampir beririsan. Ini setidaknya menjadi catatan yang layak diperiksa secara serius.

Mas Buyung Erwansyah, Aktivis Kabupaten Tangerang yang tergabung di YLPK PERARI Kabupaten Tangerang.

Buyung E., aktivis YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, mengatakan, “Kalau rumah sudah berlubang dan hujan mulai turun, kita jangan menunggu sampai terjadi sesuatu baru bergerak. Kami meminta pemerintah turun melihat kondisi sebenarnya. Data harus bertemu dengan fakta di lapangan.”

Menurut Buyung, kontrol sosial bukan berarti mencari-cari kesalahan pemerintah. Justru kontrol sosial diperlukan agar warga yang tidak mampu menyuarakan kepentingannya tetap mempunyai ruang untuk didengar. Jika ada mekanisme bantuan, masyarakat berhak mengetahui bagaimana prosesnya dan pemerintah berkewajiban memberikan pelayanan sesuai kewenangannya.

Kini publik tinggal menunggu apakah temuan tersebut akan berhenti sebagai rangkaian pemberitaan atau menjadi pemicu verifikasi dan tindakan nyata. Sebab bagi keluarga Romyati, persoalannya bukan teori: ketika hujan turun, rumah yang berlubang berarti ancaman yang langsung dirasakan di dalam rumah sendiri.

Hingga berita ini diturunkan, pihak-pihak terkait belum memberikan tanggapan atau keterangan resmi atas berbagai pertanyaan publik yang disampaikan. Redaksi tetap membuka ruang seluas-luasnya bagi hak jawab, klarifikasi, maupun penjelasan dari pihak yang berkepentingan demi menjaga keberimbangan informasi sesuai Kode Etik Jurnalistik.

Pada akhirnya, tiga kisah dari satu kampung seharusnya tidak hanya mengundang rasa iba. Ini saatnya melihat, memeriksa, dan memastikan. Karena bantuan sosial bukan sekadar angka dalam data, sementara rumah layak bukan sekadar program di atas kertas. Di balik semuanya ada keluarga yang berharap pemerintah benar-benar hadir ketika mereka membutuhkan.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks