AgamaArtikelBerita

Hablum Minallah Harus Beriringan dengan Hablum Minannas: Jangan Sampai Dekat kepada Allah, Tetapi Jauh dari Kepedulian Sesama

57
×

Hablum Minallah Harus Beriringan dengan Hablum Minannas: Jangan Sampai Dekat kepada Allah, Tetapi Jauh dari Kepedulian Sesama

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | TANGERANG — Kritik ini bukan untuk merendahkan ibadah, apalagi mengukur kadar keimanan seseorang. Justru sebaliknya, tulisan ini mengajak kita bercermin melalui sebuah pertanyaan sederhana yang sering luput dari perhatian: apa yang berubah dalam diri seseorang setelah ia begitu tekun beribadah? Sebab, kesalehan idealnya tidak berhenti pada apa yang tampak di hadapan manusia, tetapi menghadirkan perubahan nyata dalam cara seseorang memperlakukan sesamanya.

Salat, zikir, membaca Al-Qur’an, sedekah, dan berbagai aktivitas keagamaan merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Namun, ketika simbol-simbol kesalehan begitu mudah terlihat di ruang publik, sementara orang-orang terdekat justru merasa tidak diperhatikan ketika membutuhkan, pertanyaan moral menjadi relevan untuk diajukan: apakah ibadah hanya selesai di atas sajadah, atau benar-benar turun menjadi akhlak dalam kehidupan sehari-hari?

Sebab keberagamaan bukan semata tentang seberapa banyak aktivitas ibadah yang dapat dilihat orang lain. Ada dimensi yang jauh lebih sunyi, yaitu bagaimana seseorang bersikap kepada manusia yang hidup paling dekat dengannya. Tetangga yang sakit, keluarga yang kesulitan, warga yang sedang membutuhkan pertolongan, atau seseorang yang hanya membutuhkan sedikit perhatian, sering kali menjadi ruang paling sederhana untuk menguji apakah nilai kebaikan benar-benar hidup dalam diri kita.

Rasulullah SAW mengajarkan kepedulian terhadap tetangga melalui pesan agar ketika seseorang memasak makanan berkuah, ia memperbanyak kuahnya dan memperhatikan tetangganya. Pesan tersebut menunjukkan bahwa kepedulian tidak selalu membutuhkan kemampuan ekonomi yang besar. Kebaikan tidak harus menunggu seseorang menjadi kaya; terkadang ia hanya membutuhkan kepekaan untuk melihat siapa yang sedang membutuhkan dan kemauan untuk tidak berpaling.

Pesan sosial tersebut juga dapat direnungkan melalui Surah Al-Ma’un yang antara lain mengingatkan tentang kepedulian terhadap anak yatim, dorongan memberi makan orang miskin, serta peringatan terhadap perilaku riya dan kelalaian dalam menjalankan ibadah. Pesannya menjadi pengingat bahwa kehidupan beragama memiliki dimensi sosial yang tidak semestinya dipisahkan dari akhlak. Ibadah yang membentuk hati semestinya juga membentuk cara seseorang memperlakukan manusia.

Karena itu, hablum minallah dan hablum minannas semestinya tidak ditempatkan sebagai dua jalan yang saling berjauhan. Kedekatan kepada Allah idealnya mendorong seseorang menjadi lebih jujur, rendah hati, empatik, adil, dan peka terhadap kesulitan orang lain. Bukan berarti setiap orang yang rajin beribadah wajib mampu memenuhi seluruh kebutuhan orang di sekitarnya. Namun, kesalehan semestinya tidak membuat seseorang semakin kebal terhadap penderitaan yang berada hanya beberapa langkah dari rumahnya sendiri.

Di titik inilah kritik moral perlu ditempatkan secara tepat. Yang dikritisi bukan ibadahnya, bukan pula keyakinan pribadinya, melainkan ketika nilai yang diperlihatkan kepada publik tidak tercermin dalam perilaku sosial yang dirasakan orang-orang di sekitarnya. Sebab berbicara tentang kepedulian ketika banyak mata melihat tentu berbeda dengan memilih membantu ketika tidak ada kamera, tidak ada pujian, dan tidak ada tepuk tangan.

Bahkan dalam kehidupan bermasyarakat, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia menempatkan penghormatan terhadap hak asasi orang lain, moral, etika, dan tata tertib kehidupan bermasyarakat sebagai bagian dari kewajiban dasar manusia. Namun, ketentuan tersebut tentu tidak dapat ditafsirkan sebagai kewajiban pidana bagi seseorang untuk memberikan makanan atau bantuan kepada tetangganya. Ini adalah ruang refleksi moral dan sosial, bukan dasar untuk menjatuhkan tuduhan hukum tanpa fakta.

Karena itu, kritik sosial juga harus memiliki batas. Tidak peduli kepada tetangga tidak otomatis merupakan tindak pidana. Hukum pidana baru relevan ketika terdapat dugaan perbuatan konkret yang memenuhi unsur tindak pidana dan dapat dibuktikan berdasarkan fakta serta alat bukti yang sah. Maka kritik terhadap perilaku sosial jangan sampai berubah menjadi vonis terhadap seseorang yang belum terbukti melakukan pelanggaran hukum.

Yuli Murtia, S.H., Kabid Literasi Pendidikan dan Hukum YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, menyampaikan bahwa kepedulian sosial merupakan bagian penting dalam membangun karakter masyarakat. Menurutnya, ukuran kebaikan tidak cukup dilihat dari apa yang ditampilkan seseorang, tetapi juga dari manfaat yang benar-benar dirasakan oleh orang lain di lingkungan sekitarnya.

“Hablum Minallah tidak seharusnya berhenti pada hubungan manusia dengan Allah. Ia harus melahirkan Hablum Minannas, yaitu kepedulian, kasih sayang, kejujuran, dan sikap saling menghargai kepada sesama. Jangan sampai kita terlihat begitu dekat kepada Allah melalui ibadah, tetapi justru jauh dari penderitaan, kebutuhan, dan persoalan orang-orang di sekitar kita.” Ujar Yuli.

Menurut Yuli, lingkungan yang sehat tidak hanya dibangun melalui aturan formal, tetapi juga melalui kebiasaan sederhana untuk hadir ketika orang lain membutuhkan. Menyapa tetangga, berbagi makanan, membantu warga yang sedang mengalami kesulitan, menjaga ucapan, serta tidak merendahkan orang lain mungkin terlihat sederhana. Namun justru dari kebiasaan kecil itulah karakter sosial dibentuk dan rasa kemanusiaan dipelihara.

Maka pertanyaannya kembali kepada diri masing-masing: setelah begitu banyak ibadah dilakukan, berapa banyak orang di sekitar kita yang merasa hidupnya menjadi sedikit lebih ringan? Tidak semua kebaikan harus diketahui publik. Tidak semua sedekah membutuhkan dokumentasi. Tidak semua pertolongan membutuhkan saksi. Ada kebaikan yang justru menjadi lebih bermakna ketika dilakukan dalam diam, tanpa kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan.

Jangan sampai rumah kita terang oleh simbol-simbol keagamaan, tetapi tetangga merasa gelap karena tidak pernah dipedulikan. Jangan sampai tangan begitu ringan terangkat dalam doa, tetapi terasa berat ketika harus terulur kepada manusia yang sedang membutuhkan. Di situlah kesalehan menghadapi ujian sosialnya: bukan sekadar bagaimana seseorang terlihat di hadapan manusia, tetapi bagaimana ia memperlakukan manusia ketika tidak ada seorang pun yang sedang melihat.

Pada akhirnya, tulisan ini bukan ajakan untuk menilai siapa yang paling saleh dan siapa yang paling kurang. Ini adalah ajakan untuk bercermin. Sebab ibadah bukan panggung untuk membuat manusia kagum, melainkan jalan untuk membuat hati semakin tunduk, akhlak semakin baik, dan keberadaan kita semakin bermanfaat bagi sesama.

Dan mungkin, pertanyaan paling penting bukan lagi “berapa banyak ibadah yang sudah kita lakukan?”, melainkan “berapa banyak manusia yang merasakan kebaikan karena kita hadir dalam kehidupan mereka?” Sebab ukuran kebaikan bukan semata-mata seberapa sering seseorang membuat orang lain kagum terhadap kesalehannya, tetapi seberapa sering kehadirannya membuat orang lain merasa tidak sendirian. Ibadah yang matang semestinya tidak hanya mengangkat wajah kepada langit, tetapi juga menundukkan hati ketika melihat manusia di sekitar membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan pertolongan yang nyata.

Pada akhirnya, kedekatan kepada Allah dan kepedulian kepada manusia bukan dua pilihan yang harus dipertentangkan. Keduanya justru menjadi cermin yang saling menguatkan: semakin baik hubungan seseorang dengan Allah, semestinya semakin baik pula akhlaknya kepada sesama.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks