BeritaBisnis & PasarGaya Hidup & BudayaNasional

Kemudahan Fintech atau Perangkap Modern? Ketika Self Reward Berubah Menjadi Self Destruction

75
×

Kemudahan Fintech atau Perangkap Modern? Ketika Self Reward Berubah Menjadi Self Destruction

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi gambar yang memperlihatkan topik narasi rilisan berita, penuh dengan rasa kemaslahatan masyarakat demi menegakkan keadilan. (Foto: Mantv7.com)

Mantv7.com | Tangerang – Momentum Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 menjadi saat yang tepat untuk merefleksikan fenomena sosial yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat, yakni kemudahan akses pembiayaan digital yang di satu sisi membantu kebutuhan finansial, namun di sisi lain berpotensi menjadi pintu masuk lahirnya budaya konsumtif dan jeratan utang yang berkepanjangan.

Saat ini, memperoleh fasilitas pinjaman atau layanan PayLater jauh lebih mudah dibandingkan membangun kebiasaan menabung. Hanya melalui telepon genggam, masyarakat dapat mengakses pembiayaan dalam hitungan menit. Kemudahan tersebut memang menjadi bagian dari perkembangan teknologi keuangan, namun juga memunculkan kekhawatiran ketika akses utang tumbuh lebih cepat dibandingkan literasi keuangan masyarakat.

Fenomena ini semakin kompleks ketika bertemu dengan budaya gengsi dan kebutuhan akan pengakuan sosial. Tidak sedikit orang yang merasa harus terlihat sukses sebelum benar-benar sukses. Dorongan untuk memiliki gawai terbaru, pakaian bermerek, atau gaya hidup tertentu sering kali bukan lagi didasari kebutuhan, melainkan keinginan untuk memperoleh validasi dari lingkungan sekitar maupun media sosial.

Ilustrasi gambar yang memperlihatkan topik narasi rilisan berita, penuh dengan rasa kemaslahatan masyarakat demi menegakkan keadilan. (Foto: Mantv7.com)

Dalam kajian sosiologi, kondisi ini dikenal sebagai Diderot Effect, yaitu ketika satu pembelian memicu pembelian lain agar terlihat serasi. Membeli telepon genggam premium misalnya, sering diikuti keinginan membeli aksesori baru, jam tangan baru, hingga gaya hidup baru. Tanpa disadari, seseorang masuk ke dalam lingkaran konsumsi yang terus membesar.

Bersamaan dengan itu muncul fenomena Doom Spending, yakni kebiasaan berbelanja untuk melarikan diri dari tekanan hidup. Stres memicu belanja, belanja menguras keuangan, lalu kondisi keuangan yang memburuk memicu stres baru. Siklus inilah yang kini banyak dikeluhkan masyarakat, terutama mereka yang menggunakan fasilitas pembiayaan untuk memenuhi selera sesaat, bukan kebutuhan yang benar-benar mendesak.

Dampaknya tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga keluarga. Tagihan yang terus bertambah, cicilan yang menumpuk, hingga berkurangnya dana pendidikan dan tabungan masa depan menjadi persoalan yang semakin sering ditemui. Tidak sedikit yang awalnya mengatasnamakan self reward atau upgrade penampilan, namun akhirnya harus menghadapi tekanan ekonomi yang berkepanjangan.

Kabid Edukasi dan Hukum YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, Yuli Murtia, S.H., menilai bahwa tantangan terbesar masyarakat saat ini bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan kemampuan mengendalikan keinginan di tengah derasnya tekanan sosial digital.

“Yang berbahaya bukan hanya ketika masyarakat mudah memperoleh pinjaman, tetapi ketika pinjaman itu digunakan untuk memenuhi gengsi, bukan kebutuhan. Banyak orang terlihat naik kelas di media sosial, padahal secara finansial justru sedang menurunkan kualitas keamanan hidupnya sendiri,” ujar Yuli.

Menurutnya, kemajuan teknologi keuangan harus diimbangi dengan literasi dan tanggung jawab. Sebab fasilitas pembiayaan yang seharusnya membantu produktivitas dapat berubah menjadi masalah ketika digunakan untuk mengejar pengakuan sosial semata.

Refleksi ini menjadi relevan dengan semangat Pancasila. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila mengajarkan tanggung jawab, pengendalian diri, gotong royong, dan keadilan sosial. Namun budaya konsumtif justru mendorong masyarakat untuk lebih fokus pada pencitraan dibandingkan membangun kapasitas diri. Ketika Pancasila mengajarkan kebijaksanaan, ego sering kali mendorong perilaku berlebihan yang melampaui kemampuan ekonomi.

Dalam perspektif Islam, Allah SWT mengingatkan agar manusia tidak berlebih-lebihan dalam membelanjakan hartanya. Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa kekayaan sejati bukanlah banyaknya harta benda, melainkan hati yang merasa cukup. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa ketenangan hidup tidak ditentukan oleh banyaknya barang yang dimiliki, tetapi oleh kemampuan mengendalikan keinginan.

“Jangan sampai generasi muda Indonesia tumbuh dengan keyakinan bahwa harga diri ditentukan oleh merek barang yang dipakai. Harga diri lahir dari ilmu, integritas, akhlak, dan kemampuan bertanggung jawab terhadap hidupnya sendiri,” tegas Yuli.

Pada akhirnya, kemerdekaan ekonomi bukanlah kemampuan membeli semua yang diinginkan, melainkan kemampuan mengatakan ‘cukup’ ketika keinginan mulai mengalahkan akal sehat. Sebab utang yang digunakan untuk membangun masa depan bisa menjadi jalan kemajuan, tetapi utang yang digunakan untuk membangun gengsi sering kali berakhir menjadi jalan penyesalan.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks