BeritaBisnis & PasarKabupatenPemerintahan

Dua Tokoh Bergerak untuk Balaraja, Gagas Penataan Pasar Lama Balaraja dan Penguatan Ekonomi Warga

192
×

Dua Tokoh Bergerak untuk Balaraja, Gagas Penataan Pasar Lama Balaraja dan Penguatan Ekonomi Warga

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Tangerang — Balaraja bukan kekurangan orang hebat. Banyak putra daerah, tokoh masyarakat, pemuda, pengusaha, hingga mereka yang memiliki pengalaman dan kemampuan tinggal serta beraktivitas di Balaraja. Namun, persoalannya bukan lagi soal siapa yang hebat, melainkan siapa yang benar-benar mau bergerak. Di tengah banyaknya orang hebat yang lahir dan menetap di Balaraja, masih ada yang sebatas melihat berbagai persoalan di depan mata tanpa banyak langkah nyata. Balaraja terus berubah, persoalan masyarakat terus muncul, tetapi tidak semua orang yang memiliki kemampuan memilih turun tangan.

Di tengah situasi itulah Letnan Kolonel Inf. Dodi Fachruroji, M.M., bersama tokoh pemuda Balaraja, Samsu Komar alias Bacung, memilih mengambil langkah berbeda. Keduanya tidak sekadar berbicara tentang kondisi Balaraja, tetapi mulai bergerak dengan cara sederhana dan nyata, dengan satu tujuan: memberikan manfaat bagi masyarakat.

Gagasan itu muncul dari kepedulian terhadap kawasan Pasar Balaraja Lama yang memiliki sejarah panjang dalam kehidupan masyarakat. Kehadiran infrastruktur baru dan perubahan arus lalu lintas turut mengubah aktivitas kawasan tersebut. Pasar yang dahulu menjadi salah satu pusat keramaian masyarakat kini menghadapi tantangan untuk kembali hidup dan berkembang.

Patung Balaraja setinggi sekitar 3,5 meter di kawasan pertigaan Jalan Raya Serang KM 24 dan Jalan Raya Kresek menjadi salah satu pengingat sejarah kawasan tersebut. Simbol yang telah berdiri sejak era 1970-an itu bukan hanya bagian dari lanskap jalan, tetapi juga menyimpan cerita dan identitas Balaraja. Persoalannya sekarang bukan sekadar bagaimana mengenang masa lalu, tetapi bagaimana menghidupkan kembali kawasan tersebut agar tetap memiliki manfaat bagi masyarakat.

Dodi Fachruroji dan Bacung memilih memulainya dari persoalan yang terlihat sederhana, tetapi nyata dirasakan pedagang dan masyarakat, yakni kondisi area parkir Pasar Balaraja yang perlu ditata dan diperbaiki. Genangan air ketika hujan, kondisi area yang kurang tertata serta menurunnya kenyamanan pengunjung merupakan persoalan yang tidak membutuhkan terlalu banyak teori. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk memulai.

Kedua tokoh tersebut berharap Pasar Balaraja Lama kembali ramai seperti dulu, dengan aktivitas perdagangan, kuliner dan kegiatan masyarakat yang kembali hidup. Salah satu gagasan yang diharapkan dapat diwujudkan adalah food court yang bersih, tertata dan nyaman seperti di kawasan Pasar Lama, sehingga menjadi daya tarik baru, membuka peluang bagi pedagang dan UMKM, serta membuat masyarakat kembali datang dan menikmati Pasar Balaraja Lama.

Dalam keseriusan kedua tokoh, langkah tersebut juga tidak berhenti pada kegiatan lapangan. Komunikasi dan jalur administratif ditempuh dengan menyampaikan surat kepada pihak pengelola Pasar Balaraja untuk membuka ruang pembicaraan mengenai penataan dan pengembangan kawasan pasar.

Tidak sedikit orang yang mampu berbicara panjang tentang perubahan, tetapi ketika tiba waktunya turun dan melakukan sesuatu, langkahnya berhenti pada wacana. Karena itu, gerakan dua tokoh ini patut dilihat bukan karena siapa mereka, tetapi karena apa yang mereka lakukan.

Kepedulian tidak selalu harus dimulai dengan proyek besar atau anggaran besar. Kadang perubahan justru dimulai dari keberanian melihat persoalan yang selama ini dianggap biasa, kemudian bertanya:

“Apa yang bisa kita lakukan?”

YLPK PERARI Kabupaten Tangerang melalui Buyung E. menyatakan dukungannya terhadap niat tersebut. “Kami dari YLPK PERARI Kabupaten Tangerang siap mendukung niat baik kedua tokoh tersebut. Yang kami lihat bukan soal siapa yang paling hebat, tetapi siapa yang mau bergerak dan memberikan manfaat bagi masyarakat Balaraja.”

Dukungan tersebut menjadi bagian dari semangat kolaborasi antara tokoh masyarakat, pemuda dan elemen sosial untuk mendorong perbaikan yang benar-benar menyentuh kebutuhan warga.

Pada akhirnya, Balaraja tidak membutuhkan terlalu banyak orang yang hanya pandai menunjuk persoalan. Balaraja membutuhkan lebih banyak orang yang mau turun, mendengar, bekerja dan mencari jalan keluar. Dodi Fachruroji dan Bacung mungkin hanya memulai dari sebuah area parkir. Namun pesan yang lebih besar dari langkah tersebut adalah sederhana: jangan hanya mencintai Balaraja dalam ucapan. Kalau benar peduli, lakukan sesuatu untuk Balaraja.

Sebab sejarah sebuah daerah tidak hanya ditulis oleh orang-orang yang pernah tinggal di dalamnya, tetapi juga oleh mereka yang bersedia bergerak ketika yang lain memilih diam.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks